Badai Tropis Pacific Meningkat, 20 Siklon Bernama Terbentuk hingga September

  • 01 Okt 2026 19:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebanyak 20 badai bernama terbentuk di Pasifik timur laut dan tengah hingga 28 September, termasuk sembilan hurikan.
  • Hurikan Polo dan Nolo memicu cuaca ekstrem, mulai dari angin kencang dan hujan lebat hingga banjir serta longsor.
  • Aktivitas siklon lebih tinggi dari normal, dengan energi siklon Pasifik timur laut mencapai lebih dari dua kali lipat kondisi normal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Aktivitas badai tropis di kawasan Pasifik timur laut dan tengah meningkat sepanjang musim siklon tropis 2026. Hingga Rabu, 28 September 2026, tercatat 20 badai bernama di kawasan tersebut.

Mengutip NASA, Kamis, 1 Oktober 2026, dari jumlah itu, sembilan badai telah mencapai kekuatan hurikan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode 1991–2020, yakni 13,5 badai bernama dan 7,4 hurikan pada periode yang sama.

Citra satelit NASA EPIC pada 27 September memperlihatkan sejumlah badai kuat masih melanda kawasan Pasifik. Hurikan Nolo berada di sekitar Hawaii, sementara Hurikan Polo berada di lepas pantai Semenanjung Baja California.

Di kawasan tersebut, Badai Tropis Rachel dan Siklon Pascatropis Odalys juga turut memengaruhi kondisi cuaca. Hurikan Polo mendarat di Baja California Sur, Meksiko, pada 28 September.

Sebelumnya, Polo mengalami penguatan sangat cepat hingga mencapai kategori lima. Badai tersebut kemudian melemah saat bergerak melintasi Semenanjung Baja California.

Polo kembali mendarat di dekat Guaymas pada 29 September. Badai membawa ancaman angin kencang, gelombang badai, hujan lebat, banjir, dan longsor.

Sementara itu, Hurikan Nolo menjadi hurikan ketiga musim ini yang melintas dekat Hawaii. Meski tidak mendarat, Nolo menurunkan hujan lebih dari 30 sentimeter di sejumlah wilayah Maui dan Pulau Hawaii.

Hal ini yang memicu banjir, pohon tumbang, dan longsor. Data Colorado State University menunjukkan, energi siklon yang terakumulasi hingga 28 September mencapai lebih dari dua kali lipat kondisi normal.

Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas siklon di kawasan itu relatif tinggi sepanjang musim 2026. Para ilmuwan mengaitkan peningkatan aktivitas badai dengan fenomena El Niño.

Fenomena ini ditandai antara lain oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat di wilayah Pasifik. El Niño juga berkaitan dengan kondisi geseran angin yang lebih rendah.

Kedua kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan dan penguatan badai tropis. Sementara itu, NASA melalui Disasters Program turut mendukung respons terhadap Hurikan Nolo di Hawaii bersama FEMA.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....