Banjir Thailand Picu Kerugian Ekonomi hingga Rp5,3 Triliun

  • 01 Okt 2026 13:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Banjir Thailand diperkirakan menimbulkan kerugian nasional hingga 25,345 miliar baht atau sekitar Rp13,5 triliun dalam skenario kerusakan moderat, dengan Bangkok mencatat dampak terbesar.
  • Banjir mengganggu perdagangan, pariwisata, logistik, dan rantai pasokan. Pelaku usaha juga dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi intensitas dan durasi banjir.
  • Perusahaan sekuritas memberikan proyeksi berbeda mengenai dampak banjir terhadap ekonomi Thailand, dengan perkiraan pertumbuhan PDB 2026 berkisar sekitar 2 persen hingga 2,5 persen.

RRI.CO.ID, Bangkok — Banjir yang melanda Thailand menyebabkan kerugian ekonomi besar, dengan Bangkok menanggung dampak terbesar. University of the Thai Chamber of Commerce memperkirakan kerugian nasional mencapai 10 miliar baht (Rp5,3 triliun).

Associate Professor Aat Pisanwanich dari Universitas Rangsit memperkirakan kerugian akibat banjir di 48 provinsi mencapai 25,345 miliar baht. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp13,5 triliun dalam skenario kerusakan moderat, dilansir dari Asia News Network, Kamis, 1 Oktober 2026.

Bangkok menyumbang kerugian terbesar sebesar 10,586 miliar baht (Rp5,6 triliun) karena banjir mengganggu aktivitas perdagangan, jasa, dan perjalanan. Para pelaku usaha memperingatkan banyak perusahaan tidak siap menghadapi intensitas dan durasi banjir.

Hujan deras pada 24–26 September melampaui kapasitas sistem drainase Bangkok, menyebabkan banjir meluas di ibu kota serta provinsi sekitarnya. Dr. Amonthep Chawla dari CIMB Thai Bank mengatakan dampak ekonomi akan terbatas jika banjir surut dalam dua atau tiga hari.

Namun, konsumsi, pariwisata, konstruksi, dan kepercayaan masyarakat perlu terus dipantau. Amonthep memperkirakan masyarakat akan menunda pembelian besar dan memprioritaskan makanan serta kebutuhan pokok.

Gangguan logistik juga dapat menghambat pengiriman barang meskipun konsumen masih memiliki dana untuk berbelanja. Sektor pariwisata berpotensi terdampak karena wisatawan dapat mengalihkan perjalanan dari Bangkok ke destinasi lain.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi hotel, restoran, operator transportasi, dan peritel di wilayah yang terdampak banjir. Amonthep juga menyerukan investasi yang lebih jelas untuk pencegahan banjir dan pengelolaan kawasan penampungan air.

Ia menilai bantuan tunai saja tidak cukup untuk mengatasi masalah pertumbuhan ekonomi yang rendah dan lemahnya daya beli. Federation of Thai Industries memperingatkan banyak perusahaan tidak memiliki persiapan memadai menghadapi banjir.

Gangguan industri berpotensi memengaruhi seluruh rantai produksi dan pasokan, termasuk bahan baku, transportasi, gudang, dan persediaan. FTI meminta perusahaan segera menilai risiko dan menyiapkan rute serta penyedia layanan alternatif.

Perusahaan sekuritas memberikan perkiraan berbeda mengenai dampak banjir terhadap pasar saham dan pertumbuhan ekonomi Thailand. CGS International Securities mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB Thailand 2026 sebesar 2,5 persen.

Sementara itu, Kasikorn Securities memperkirakan banjir dapat mengurangi proyeksi PDB 2026 sebesar 0,1–0,2 persen. UOB Kay Hian Securities menilai momentum pertumbuhan ekonomi Thailand masih bertahan meskipun banjir melanda sejumlah wilayah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....