Iran: Jika Kami Dilarang, Tak Ada Negara Bisa Jual Minyak
- 30 Sep 2026 15:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan negara-negara di kawasan tidak akan dapat menjual minyak jika Iran dicegah melakukan hal serupa.
RRI.CO.ID, Teheran — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan tidak ada negara di kawasan yang dapat menjual minyaknya. Menurut dia, hal ini akan berlaku jika Iran dicegah untuk menjual minyak produksinya.
Dikutip dari Anadolu, Rabu 30 September 2026, Ghalibaf mengatakan negara-negara lain perlu memahami konsekuensi pembatasan terhadap ekspor minyak Iran. “Jika kami tidak dapat menjual minyak, negara-negara lain di kawasan juga demikian,” ujarnya.
Iran saat ini menghadapi pembatasan ekspor minyak akibat sanksi Amerika Serikat (AS). Gubernur Bank Sentral Iran pada Agustus 2026 mengatakan ekspor minyak Iran telah turun menjadi nol karena perang dan sanksi.
Militer AS mengatakan lebih dari 1 miliar barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir. Pengiriman tersebut disebut berlangsung dengan bantuan militer Washington.
AS juga mengklaim Iran tidak mengekspor minyak karena “blokade ketat” yang diterapkannya. Ghalibaf menegaskan tidak ada infrastruktur yang akan aman jika keamanan Iran tidak dijamin.
Menurut dia, Iran kemungkinan bakal melakukan pembalasan terhadap infrastruktur energi dan aset AS di sekitar Teluk dan Selat Hormuz. Peringatan tersebut disampaikan jika Washington menyerang fasilitas minyak dan gas Iran.
Ghalibaf juga menyinggung pernyataan Presiden AS, Donald Trump, mengenai Selat Hormuz. Menurut dia, pernyataan Trump mengenai jalur pelayaran tersebut merupakan pengulangan klaim AS sebelumnya.
Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial normal dalam waktu tujuh hari. Menurut dia, persyaratan yang diajukan Iran tidak dapat diterima karena Washington telah memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
Dalam proposal Teheran, AS diminta membebaskan aset Iran yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, serta mengakhiri blokade terhadap pelabuhannya. Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan akan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai pembicaraan mengenai kesepakatan akhir.
Iran masih membatasi akses di Selat Hormuz sambil menuntut AS memenuhi komitmen berdasarkan nota kesepahaman Juni 2026. Negara itu menyatakan tidak akan sepenuhnya membuka selat itu hingga persyaratannya dipenuhi dan komitmen AS diterapkan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan mediator Qatar akan menyampaikan gagasan baru kepada AS. Khususnya mengenai cara memenuhi persyaratan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Ghalibaf juga memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Menurut dia, Iran tidak akan mundur menghadapi apa yang disebutnya sebagai blokade udara maupun komersial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....