Analis: Pergeseran Geopolitik Perkuat Posisi Houthi Hadapi Saudi
- 21 Sep 2026 20:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Konflik antara Arab Saudi dan Houthi meningkat kembali setelah periode gencatan senjata berakhir.
- Analis geopolitik Universitas Padjadjaran menilai keseimbangan kekuatan kedua pihak mengalami perubahan yang signifikan.
- Perkembangan geopolitik regional turut memengaruhi kemampuan Arab Saudi dalam menghadapi ancaman Houthi.
RRI.CO.ID, Jakarta — Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi kembali meningkat setelah periode gencatan senjata. Eskalasi terbaru menunjukkan perubahan posisi kedua pihak dalam konflik Yaman.
Analis dan Pakar Geopolitik Timur Tengah Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti Sulaeman, menilai keseimbangan kekuatan kini mengalami perubahan. Menurutnya, perkembangan geopolitik regional turut memengaruhi kemampuan Arab Saudi menghadapi Houthi.
"Jawabannya itu sangat regional juga. Sangat terkait dengan perkembangan geopolitik di kawasan," ujar Dina saat berbincang bersama Pro3 RRI, Senin, 21 September 2026.
Dina mengatakan perubahan tersebut terlihat dari berkurangnya dukungan eksternal terhadap Arab Saudi. Hal itu dikarenakan peperangan dengan Iran telah menguras sumber daya negara-negara kawasan.
Menurut Dina, kondisi tersebut membuat Saudi menghadapi tantangan ketika konflik dengan Houthi kembali meningkat. Sementara itu, Houthi disebut telah mengembangkan kemampuan persenjataan secara mandiri.
"Mereka sudah bersiap-siap sejak tujuh tahun terakhir untuk membangun industrinya secara mandiri. Dari sisi Yaman ini kan pasukannya banyak banget dan betul-betul militan," ucapnya.
Sebelumnya otoritas Saudi Arabia pada 19 September 2026 mengonfirmasi rudal balistik yang diarahkan menuju Riyadh berhasil dicegat. Serangan tersebut menjadi serangan pertama ke Riyadh sejak eskalasi terbaru konflik Yaman.
Dina menilai kemampuan Houthi tidak semata-mata bergantung pada dukungan Iran. Ia mengatakan perubahan keseimbangan kawasan turut memperkuat posisi kelompok tersebut.
"Kalau dukungan bahwa misalnya suplai senjata, enggak. Tapi pengaruh dari sisi bahwa sudah terjadi pergeseran geopolitik," katanya.
Dina mengatakan laporan PBB juga belum membuktikan secara langsung adanya suplai senjata dari Iran kepada Houthi. Menurutnya, pengaruh Iran lebih berkaitan dengan dinamika geopolitik kawasan.
Serangan terbaru menunjukkan konflik Yaman kembali memiliki dimensi regional yang kuat. PBB sebelumnya juga mencatat meningkatnya pertempuran di wilayah pesisir barat Yaman.
Dina mengatakan penyelesaian konflik sulit dilakukan karena melibatkan banyak pihak. Menurutnya, kepentingan Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, dan berbagai faksi Yaman ikut memengaruhi konflik.
Di sisi lain, kebutuhan kemanusiaan Yaman terus meningkat akibat eskalasi konflik. PBB mencatat lebih dari 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan di Yaman pada September 2026.
Kondisi tersebut membuat konflik Yaman tidak hanya menjadi persoalan keamanan. Perkembangan konflik juga berkaitan dengan kepentingan geopolitik dan stabilitas kawasan Timur Tengah. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....