Hari Bersih-Bersih Sedunia: Dari Aksi Lokal Jadi Gerakan Global
- 20 Sep 2026 15:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- World Cleanup Day diperingati setiap tanggal 20 September untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi masalah sampah global.
RRI.CO.ID, Jakarta — Setiap tanggal 20 September, dunia memperingati World Cleanup Day atau Hari Bersih-Bersih Sedunia. Peringatan ini mengajak masyarakat di dunia untuk ikut menjaga lingkungan dan mengurangi masalah sampah.
Melansir laman resmi World Cleanup Day, gerakan ini bermula dari aksi bersih-bersih di Estonia pada 2008. Saat itu, sekitar 50 ribu orang membersihkan seluruh negeri dalam waktu lima jam melalui gerakan "Let’s Do It!".
Aksi tersebut kemudian menginspirasi negara lain untuk melakukan kegiatan serupa. Gerakan bersih-bersih itu berkembang hingga menjadi kegiatan global yang melibatkan jutaan orang.
Pada 2018, World Cleanup Day melibatkan lebih dari 18 juta orang dari 157 negara dan wilayah. Setahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 21 juta orang dari 180 negara dan wilayah.
Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan jumlah peserta yang besar. Pada 2019, sekitar 9,5 juta orang di Indonesia ikut dalam kegiatan bersih-bersih tersebut.
Pelaksanaan World Cleanup Day juga memiliki keunikan karena berlangsung mengikuti perbedaan waktu di berbagai negara. Pada 2018, rangkaian kegiatan dimulai dari Fiji dan berakhir di Samoa Amerika sekitar 36 jam kemudian.
Meski sudah menjadi gerakan internasional sejak sebelumnya, World Cleanup Day baru mendapat pengakuan resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada 8 Desember 2023, Majelis Umum PBB menetapkan 20 September sebagai World Cleanup Day melalui Resolusi 78/122.
Sejak saat itu, 20 September ditetapkan sebagai tanggal tetap untuk memperingati World Cleanup Day setiap tahun. Sebelumnya, kegiatan tersebut biasanya berlangsung pada Sabtu pekan ketiga September.
Peringatan World Cleanup Day 2026 membawa tema “From Clean Plates to Clean Cities”. Tema tersebut menyoroti masalah sampah makanan dan kaitannya dengan upaya menciptakan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Persoalan sampah makanan memang cukup besar. Program Lingkungan PBB mencatat sekitar 1,05 miliar ton makanan terbuang pada 2022 dari rumah tangga, restoran, dan toko.
Sampah makanan tidak hanya berkaitan dengan makanan yang terbuang. Sumber daya seperti air, lahan, energi, dan tenaga yang digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut juga ikut terbuang.
Karena itu, World Cleanup Day tidak hanya berfokus pada kegiatan memungut sampah. Gerakan ini juga mendorong masyarakat mengubah kebiasaan sehari-hari, termasuk mengurangi sampah dan menggunakan sumber daya secara lebih bijak.
World Cleanup Day kini menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat, komunitas, sekolah, pemerintah, hingga berbagai organisasi. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....