Sekjen ASEAN Tekankan Manfaat AI Harus Dirasakan UMKM dan Pekerja

  • 15 Sep 2026 09:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • ASEAN menilai manfaat AI dan teknologi baru harus dirasakan UMKM, pekerja, serta negara dengan perekonomian lebih kecil.
  • Kesenjangan infrastruktur, keterampilan, modal, data, dan kemampuan teknologi berpotensi memperlebar ketimpangan.
  • Transformasi digital ASEAN diarahkan untuk memperkuat konvergensi ekonomi dan kohesi sosial tanpa menghambat inovasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - ASEAN menekankan manfaat kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI) dan teknologi baru harus dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. Sekjen ASEAN, Kao Kim Hourn, menilai UMKM, pekerja, serta negara berpendapatan lebih kecil perlu memperoleh manfaat tersebut.

Ia mengatakan AI akan membentuk tahap berikutnya dari transformasi ekonomi ASEAN yang semakin berkembang. Namun, menurutnya, nilai teknologi tersebut bergantung pada seberapa luas manfaatnya dapat dibagikan, termasuk kepada UMKM.

“Manfaat teknologi tersebut pada akhirnya akan bergantung pada seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan terutama oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang tetap menjadi tulang punggung perekonomian dan sumber penting lapangan kerja, dan mata pencaharian,” ujarnya dalam ASEAN Think Tanks Summit ke-3 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Ia mengatakan ASEAN telah membangun fondasi transformasi digital mencakup ASEAN Digital Masterplan, ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang segera ditandatangani. Selain itu, ASEAN juga memiliki ASEAN Guide on AI Governance and Ethics sebagai pedoman tata kelola kecerdasan buatan.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur digital, konektivitas, dan pengaturan arus data lintas batas telah mendukung integrasi ekonomi digital kawasan. Namun, ia menilai tantangan berikutnya adalah memastikan integrasi ekonomi tidak berlangsung lebih cepat dibandingkan inklusi.

Kondisi tersebut dinilai penting agar perusahaan, pekerja, dan negara-negara ASEAN memiliki kapasitas untuk berpartisipasi serta bersaing secara adil. Kao mengingatkan manfaat AI dan digitalisasi tidak akan diterima secara merata oleh seluruh negara, sektor, perusahaan, maupun pekerja.

“Perbedaan dalam infrastruktur digital, keterampilan, akses terhadap modal, data, dan kemampuan teknologi dapat memperkuat kesenjangan yang sudah ada kecuali ditangani secara sengaja,” ujar Kao.

Karena itu, Kao mempertanyakan kemampuan UMKM, pekerja, dan negara dengan perekonomian lebih kecil dalam mengadopsi teknologi AI. Ia juga menekankan pentingnya memastikan peningkatan produktivitas dari perkembangan teknologi dapat dibagikan secara luas.

Kao turut menyoroti kebutuhan ASEAN mengelola risiko akibat perubahan teknologi yang berlangsung cepat tanpa menghambat inovasi. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan erat dengan arah pembangunan ASEAN dalam jangka panjang.

“Ini bukan hanya pertanyaan mengenai kebijakan digital. Hal ini menyentuh inti Visi Komunitas ASEAN 2045, yakni ASEAN yang inovatif dan kompetitif, sekaligus tetap inklusif dan berpusat pada masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan tujuan ASEAN tidak cukup hanya membangun kawasan yang semakin digital dan terhubung. Kemajuan teknologi juga harus diarahkan untuk mendorong konvergensi ekonomi sekaligus memperkuat kohesi sosial di kawasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....