Sekjen ASEAN Tekankan Sentralitas ASEAN di tengah Rivalitas Strategis
- 14 Sep 2026 23:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kao Kim Hourn menegaskan sentralitas ASEAN harus terus diperjuangkan di tengah rivalitas strategis.
- ASEAN perlu memperkuat mekanisme dialog agar tetap relevan menghadapi perubahan arsitektur regional.
- Hasil ATTS akan berkontribusi pada policy memo untuk pertemuan tingkat tinggi ASEAN November 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menegaskan pentingnya memperkuat sentralitas ASEAN di tengah rivalitas strategis yang semakin tajam. Menurut Kao, perubahan arsitektur regional yang semakin kompleks menuntut ASEAN terus memperjuangkan peran sentralnya.
“Sentralitas, pada akhirnya, tidak dapat hanya bertumpu pada warisan kelembagaan. Sentralitas harus terus diperjuangkan melalui kemampuan ASEAN untuk mempertemukan negara-negara, mengelola perbedaan, dan memungkinkan aksi kolektif ketika hal itu diperlukan,” kata Kao dalam 3rd ASEAN Think Tanks Summit (ATTS) di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Kao menilai tantangan tersebut semakin besar ketika lingkungan regional dan internasional menjadi lebih kompetitif, kompleks, serta sulit diprediksi. Menurutnya, ASEAN perlu menjaga persatuan dan solidaritas agar tetap memiliki arah yang jelas dalam menghadapi berbagai tekanan.
“Tantangannya bukan sekadar menavigasi tekanan-tekanan tersebut. Tetapi melakukannya tanpa kehilangan persatuan, solidaritas, sentralitas, dan arah ASEAN dalam bergerak menuju Visi Komunitas ASEAN 2045: Our Shared Future,” ujar Kao.
Ia menyoroti meningkatnya rivalitas strategis serta kemunculan berbagai institusi dan inisiatif baru di kawasan. Kondisi tersebut diikuti kecenderungan negara-negara mengandalkan koalisi berbasis isu dan pengaturan minilateral.
Menurut Kao, perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi ASEAN dalam menjaga arsitektur regional tetap koheren dan relevan. ASEAN perlu memastikan berbagai proses yang dipimpinnya tetap memiliki kemampuan mempertemukan negara-negara di tengah semakin kompleksnya kawasan.
Ia menyebut, keberhasilan sentralitas ASEAN pada akhirnya akan terlihat dari capaian institusi-institusi yang berada dalam kerangka ASEAN. Karena itu, ASEAN perlu memastikan berbagai mekanisme yang dimiliki mampu merespons perubahan dan menghasilkan manfaat nyata.
Ia juga menekankan pentingnya ASEAN mempertahankan kapasitas dalam menentukan prioritas dan membentuk masa depannya sendiri. Pada saat yang sama, ASEAN tetap perlu terbuka terhadap kemitraan dengan negara-negara besar serta mitra lainnya.
“ASEAN memperoleh banyak manfaat dari keahlian, pengalaman, keterlibatan, dan dukungan para mitra dialog, mitra dialog sektoral, dan mitra pembangunan. Namun, keterlibatan dengan para mitra harus memperkuat, bukan menggantikan, kapasitas ASEAN sendiri untuk menentukan kepentingannya dan membuat pilihannya,” katanya.
Ia menegaskan keterbukaan ASEAN terhadap kemitraan tidak berarti mengurangi kepemilikan kawasan atas arah strategisnya. Menurutnya, berbagai gagasan dari dalam maupun luar kawasan dapat dimanfaatkan selama tetap menjadikan kepentingan ASEAN sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Kepemilikan tidak berarti menutup diri. Kepemilikan berarti memanfaatkan gagasan-gagasan terbaik dari dalam maupun luar kawasan, sembari tetap menjadikan prinsip, prioritas, dan kepentingan ASEAN sebagai kompas strategis,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....