Sekjen PBB Serukan Israel Tarik Pasukan dari Lebanon
- 09 Sep 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengecam meningkatnya jumlah korban sipil di Lebanon selatan dan menyerukan Israel menarik pasukannya dari Lebanon.
- Serta mendesak semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah Lebanon dan memenuhi kewajiban mereka berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006).
- Menurut otoritas setempat, sekitar 5.000 keluarga, sekitar 20.000 orang, meninggalkan Distrik Nabatieh pada pekan lalu, demikian laporan kantor PBB untuk urusan kemanusiaan, OCHA.
RRI.CO.ID, New York - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengecam meningkatnya jumlah korban sipil di Lebanon selatan dan menyerukan Israel menarik pasukannya dari Lebanon. Seiring pertempuran yang semakin intensif di Nabatieh dan sekitarnya.
“Sekjen Guterres sangat prihatin atas eskalasi operasi militer Israel di Lebanon selatan. Seraya mengecam meningkatnya jumlah korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak yang tewas dan terluka dalam serangan yang semakin intensif,” kata Juru Bicara Sekjen PBB, Stéphane Dujarric dalam konferensi pers, Selasa, 8 September 2026 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
Menurut Dujarric, Sekjen Guterres menyoroti penderitaan dan pengungsian yang disebabkan oleh perintah evakuasi. Serta pemandangan kehancuran dan kerusakan besar-besaran yang kini terjadi di seluruh distrik tersebut.
“Sekjen sangat mengkhawatirkan laporan mengenai serangan Israel yang berdampak pada rumah sakit, tenaga kesehatan, dan lembaga-lembaga publik. Serta, pembatasan akses kemanusiaan,” ujar Dujarric menambahkan.
Menurutnya, semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional. Ia menambahkan bahwa warga sipil dan objek sipil harus dilindungi setiap saat, dan serangan yang ditujukan terhadap mereka tidak dapat diterima.
Sekjen PBB menyerukan penghentian permusuhan segera, meminta Israel untuk menarik pasukannya. Serta mendesak semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah Lebanon dan memenuhi kewajiban mereka berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006).
“PBB tetap berkomitmen untuk mendukung upaya mengakhiri kekerasan, melindungi warga sipil, dan mendorong tercapainya solusi yang berkelanjutan bagi konflik ini. PBB sangat prihatin dengan eskalasi tajam yang terjadi selama akhir pekan hingga awal pekan ini, khususnya di Nabatieh,” kata Dujarric menekankan.
“Para pekerja kemanusiaan melaporkan bahwa warga sipil, termasuk anak-anak, termasuk di antara mereka yang tewas dan terluka," ujarnya.
Menurut otoritas setempat, sekitar 5.000 keluarga, sekitar 20.000 orang, meninggalkan Distrik Nabatieh pada pekan lalu, demikian laporan kantor PBB untuk urusan kemanusiaan, OCHA. Layanan kesehatan di wilayah tersebut juga menghadapi tekanan yang semakin besar.
Dujarric kembali menegaskan perlunya penghormatan penuh terhadap hukum humaniter internasional. Termasuk, perlindungan terhadap warga sipil, layanan kesehatan, dan infrastruktur sipil.
Meskipun insiden-insiden yang dilaporkan terjadi di luar wilayah operasi pasukan penjaga perdamaian PBB. Tapi, misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) mengatakan bahwa pihaknya terus memantau dengan prihatin memburuknya situasi keamanan secara lebih luas.
Antara Kamis dan Senin, misi tersebut mencatat peningkatan tajam aktivitas militer Israel di dalam dan sekitar wilayah operasinya. Termasuk operasi darat, tembakan proyektil, serangan udara, dan pelanggaran wilayah udara Lebanon.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....