Menjaga Warisan Ulama Aceh, Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun Didigitalisasi

  • 31 Agt 2026 17:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan peninggalan ulama Aceh, Teungku Chik Lampaloh atau Syekh Abdurrahman Lampaloh mulai didigitalisasi.
  • Manuskrip yang diperkirakan berusia sekitar 180 tahun itu tidak hanya memuat teks Al-Qur'an, di dalamnya terdapat berbagai catatan yang merekam tradisi keilmuan Islam.
  • Upaya digitalisasi itu menjadi bagian dari penelitian Nurrahmi, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

RRI.CO.ID, Shah Alam - Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan peninggalan ulama Aceh, Teungku Chik Lampaloh atau Syekh Abdurrahman Lampaloh mulai didigitalisasi. Tujuannya untuk menjaga warisan intelektual Islam Nusantara agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang.

Manuskrip yang diperkirakan berusia sekitar 180 tahun itu tidak hanya memuat teks Al-Qur'an, di dalamnya terdapat berbagai catatan yang merekam tradisi keilmuan Islam. Kemudian, jaringan pengetahuan, serta kehidupan sosial-keagamaan masyarakat pada masa manuskrip tersebut dibuat.

Upaya digitalisasi itu menjadi bagian dari penelitian Nurrahmi, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Penelitian tersebut dikerjakan bersama Mujiburrahman, Syamsul Rijal, Zubaidah, dan Fathin Zhafira Fauzi.

Penelitian bertajuk “From Manuscript to Digital Heritage: Preserving Nusantara Islamic Knowledge through the Digitalization of the Teungku Chik Lampaloh Manuscript. Serta, dipresentasikan dalam 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, 26-28 Agustus 2026.

Manuskrip yang diperkirakan berusia sekitar 180 tahun itu tidak hanya memuat teks Al-Qur'an, di dalamnya terdapat berbagai catatan yang merekam tradisi keilmuan Islam (Foto: Dokumentasi/ UIN Ar-Raniry)

Nurrahmi mengatakan digitalisasi diperlukan karena kondisi fisik manuskrip mulai mengalami kerusakan. Sejumlah halaman telah rapuh, sedangkan tulisan pada beberapa bagian mulai memudar sehingga semakin sulit dibaca.

“Digitalisasi bukan hanya mengubah manuskrip menjadi bentuk digital. Tetapi juga menjadi upaya menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya agar tetap dapat dipelajari dan diwariskan,” kata Nurrahmi dilansir dari laman Kemenag RI, Senin, 31 Agustus 2026.

Penggunaan tinta berbasis besi yang lazim digunakan pada masa lalu menjadi salah satu tantangan pelestarian, karena berpotensi menimbulkan korosi pada kertas dalam jangka panjang. Karena itu, versi digital diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk menyentuh manuskrip asli sehingga risiko kerusakan dapat ditekan.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui tiga tahap, yakni pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi. Prosesnya mencakup pemilihan manuskrip, verifikasi kepemilikan, pencatatan data bibliografi, pengambilan gambar, pemeriksaan kualitas hingga dokumentasi hasil digitalisasi.

Hasil penelitian menunjukkan proses tersebut menghasilkan surrogate digital berkualitas tinggi yang dapat membantu mempertahankan informasi manuskrip dalam jangka panjang. Selain teks Al-Qur'an, bagian parateks manuskrip seperti catatan pinggir, kolofon, anotasi, dan keterangan lainnya turut menjadi objek kajian.

Bagian-bagian tersebut dinilai penting untuk menelusuri praktik keilmuan, transmisi pengetahuan, jaringan ulama. Serta kondisi sosial-keagamaan masyarakat pada masa manuskrip itu ditulis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....