Sejumlah Negara Tawarkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir Nepal

  • 27 Agt 2026 22:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Banjir bandang besar yang dipicu longsoran es gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan China berdampak terhadap sejumlah warga negara asing.
  • Hingga hari ini, Kamis 27 Agustus 2026 sore, sedikitnya 270 orang dilaporkan meninggal dunia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Banjir bandang besar yang dipicu longsoran es gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan China berdampak terhadap sejumlah warga negara asing. Hingga hari ini, Kamis 27 Agustus 2026 sore, sedikitnya 270 orang dilaporkan meninggal dunia.

Pemerintah Korea Selatan melaporkan sembilan warganya yang bekerja dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Nepal masuk daftar orang hilang. Sementara, Kementerian Luar Negeri Malaysia menyatakan kehilangan kontak dengan 11 warga negaranya yang diyakini berada di Distrik Rasuwa.

Kemudian, Kedutaan Besar Rusia di Nepal melaporkan empat warga Rusia hilang di kawasan bencana. Perdana Menteri India Narendra Modi telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah untuk menawarkan bantuan.

"India siap memberikan segala bentuk bantuan kemanusiaan yang dimungkinkan kepada Nepal. Tim kami berkoordinasi erat dalam upaya penyelamatan dan pemberian bantuan," tulis Modi melalui media sosial, Kamis 27 Agustus 2026.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mulai memobilisasi bantuan untuk Nepal. "Dalam upaya memenuhi apa yang jelas akan menjadi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar," kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

Australia, Inggris, Uni Eropa, Finlandia, Prancis, Norwegia, dan Swiss turut menyampaikan solidaritas kepada Nepal. Mereka meminta seluruh pihak di wilayah terdampak mematuhi arahan pemerintah dan peringatan keselamatan karena situasi masih terus berkembang.

Pakar iklim dari Pusat Pengembangan Pegunungan Terpadu Internasional (ICIMOD) di Kathmandu menilai longsoran salju dan es dari gletser kemungkinan besar menjadi pemicu utama banjir bandang. "Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang sangat luar biasa," tulis para pakar ICIMOD dalam pernyataan resmi.

Ketinggian permukaan air di salah satu titik Sungai Trishuli bahkan dilaporkan melonjak hingga sembilan meter hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Menurut ICIMOD, Sungai Lhende Khola, anak Sungai Bhotekoshi, menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah.

"Lhende Khola telah dua kali dilanda banjir dalam 14 bulan terakhir. Kali ini pemicunya adalah longsoran bebatuan es dari gletser di sisi Nepal, yang kemudian menyumbat sungai dan melepaskan lonjakan air bah secara tiba-tiba ke hilir," kata Saswata Sanyal, spesialis pengurangan risiko bencana ICIMOD.

Sanyal mendesak penguatan sistem peringatan dini di kawasan Himalaya yang terus mengalami peningkatan suhu. Bencana serupa sebelumnya juga pernah terjadi ketika sebuah danau glasial di Tibet meluap akibat peningkatan suhu ekstrem.

Peristiwa tersebut menewaskan sembilan orang dan menghancurkan infrastruktur vital. Termasuk jembatan yang menghubungkan Nepal dan China.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....