Tiongkok Dukung Pengembangan Kawasan Transmigrasi Berkelanjutan di Indonesia

  • 11 Agt 2026 14:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia menggelar studi dengan Tiongkok untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi yang berkelanjutan dan inovatif
  • Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi menyatakan pentingnya meningkatkan kapasitas aparatur dan sumber daya manusia Kementerian Transmigrasi
  • Studi kerja sama kedua negara tersebut diselenggarakan dalam Seminar on China's Development Model

RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Transmigrasi (Kementras) menjalin kerja sama dengan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia dan Peking University. Tujuannya untuk mendukung percepatan pengembangan kawasan transmigrasi berkelanjutan di Indonesia.

Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi, menyatakan pengalaman Tiongkok dalam pembangunan kewilayahan bisa menjadi referensi bagi Indonesia. Namun, menurut dia, hal itu akan disesuaikan dengan kondisi ekonomi sosial budaya masyarakat di kawasan transmigrasi.

“Kami akan memberikan banyak perspektif dan altenatif terhadap model-model yang akan dikembangkan Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya, Selasa 11 Agustus 2026. “Di antaranya pembangunan sumber daya manusia, kewilayahan, pengembangan model ekonomi, dan pembangunan ekonomi.”

Wamentras menyatakan pihak Peking University sangat antusias untuk berkolaborasi dalam proyek pengurangan kemiskinan, mengingat pengalamannya terkait hal tersebut. “Ini menekankan pentingnya berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta berharap kerjasama ini dapat berlanjut di masa depan,” katanya.

Wamentrans menambahkan pihaknya telah berupaya melakukan pemetaan potensi kawasan transmigrasi melalui penerjunan Tim Ekspedisi Patriot (TEP). Pada 2026 telah diterjunkan 1.476 peserta TEP 2026 untuk membangun 53 kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan.

“Ini 39 profesor, 10 peneliti paskadoktoral, 148 doktor, 49 master, dan selebihnya magister terapan dan sarjana,” ucapnya. “Kami ingin membangun kawasan transmigrasi dengan ilmu pengetahuan yang akan memperkaya pengembangan perspektif akademis.”

Viva menambahkan pihaknya juga bermitra dengan sejumlah perguruan tinggi untuk turut serta membangun kawasan. Menurut dia, keterlibatan akademisi dan praktisi akan mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah melalui pemaksimalan potensi ekonomi.

“Keberadaan TEP memiliki peran strategis untuk memastikan pembangunan infrastruktur benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujarnya. “Ini dilakukan melalui hasil identifikasi dan pemetaan agar pemerintah dapat menyusun kebijakan pembangunan yang lebih efektif.”

Chair of Management Council of the National School of Development of Peking University, LeI Xiaoyan, mendukung pernyataan tersebut. Menurut diam kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan kawasan transmigrasi akan meningkatkan ekonomi kedua negara.

“Kami memiliki banyak pengalaman dalam membangun daerah-daerah pinggiran kota dengan pemerintah setempat,” ujarnya. “Hal ini dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran bersama dengan Indonesia.

Lei menambahkan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok untuk pengembangan kawasan transmigrasi ini akan bersifat dua arah. “Kami juga ingin mempelajari pengalaman pembangunan Indonesia sekaligus membuka peluang lebih lanjut,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....