Pemerintah Maroko Siapkan 50 Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia
- 10 Agt 2026 19:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Maroko menyediakan sekitar 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia dan membuka peluang menambah jumlahnya jika dibutuhkan.
- Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemampuan bahasa Arab calon mahasiswa Indonesia.
- Indonesia sebelumnya telah mengirim 30 mahasiswa ke Maroko melalui program visiting student.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Maroko menyediakan sekitar 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia dan membuka peluang menambah jumlahnya jika dibutuhkan. Demikian kata Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini saat bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta.
“Kami menyediakan sekitar 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia, saya kira ada keinginan dari Kementerian Urusan Islam untuk meningkatkan jumlahnya jika memang dibutuhkan. Saya berkomitmen untuk menyampaikan posisi Indonesia terkait masalah ini kepada pihak berwenang dan pemerintah saya, serta akan menindaklanjutinya dengan mereka," ujar Houssaini dilansir laman Kemenag RI, Senin, 10 Agustus 2026.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemampuan bahasa Arab calon mahasiswa Indonesia. Menurut Houssaini, pihaknya tengah mengkaji kemungkinan mengirim pengajar bahasa Arab dari Maroko ke Indonesia.
“Mahasiswa dapat belajar selama tiga atau enam bulan bahasa Arab di Jakarta sebelum berangkat ke Maroko. Kementerian kami menerima gagasan tersebut dan sedang mengkajinya,” ucap Houssaini menambahkan.
Secara khusus Houssaini memastikan, pihaknya telah menghubungi Kementerian Urusan Islam guna memfasilitasi dan menyederhanakan beberapa persyaratan. Utamanya, terkait sejumlah hal yang dipandang rumit oleh Indonesia.
Pada kesempatan yang sama Menag Nasaruddin Umar mengungkap, Indonesia sebelumnya telah mengirim 30 mahasiswa ke Maroko melalui program visiting student. Namun, program serupa tidak dapat dilanjutkan tahun ini karena adanya sejumlah persyaratan.
“Tahun lalu kami mengirim 30 mahasiswa, tiga bulan untuk program magister dan enam bulan untuk program doktoral. Tahun ini kami kembali merencanakannya, tetapi ada banyak persyaratan karena itu, tahun ini kami tidak mengirim mahasiswa ke Maroko,” ujar Menag.
Menag berharap akses ke perguruan tinggi Maroko dapat dipermudah sehingga semakin banyak mahasiswa Indonesia dapat belajar di sana. Menurutnya, Maroko berpotensi menjadi alternatif tujuan studi, tidak hanya untuk bidang keislaman.
“Insyaallah, ke depan kita dapat mengirim lebih banyak mahasiswa ke Maroko. Bukan hanya untuk studi Islam, tetapi juga teknik dan berbagai ilmu lainnya,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....