PM Tailan Respons Positif Pertemuan ICRC dengan Aung San Suu Kyi
- 04 Agt 2026 16:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tailan merespons positif pertemuan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dengan Mantan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, Senin, 3 Agustus, di Naypyitaw.
- Tailan mendorong adanya pendekatan keterlibatan kembali yang dilakukan secara bertahap.
- Myanmar yang damai dan stabil bukan hanya menjadi kepentingan Tailan sebagai negara tetangga terdekat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Tailan merespons positif pertemuan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dengan Mantan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, Senin, 3 Agustus, di Naypyitaw. Tanggapan Tailan itu disampaikan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul saat menyampaikan pidato politik, Selasa, 4 Agustus, di Markas Besar ASEAN, Jakarta.
“Kemarin, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) diizinkan bertemu dengan Aung San Suu Kyi, yang dilaporkan berada dalam kondisi kesehatan yang baik. Inilah yang selama ini diperjuangkan Tailan,” ujar PM Anutin menambahkan.
Menurutnya, isu Myanmar merupakan ujian yang nyata bagi negara-negara di kawasan. Namun, Konsensus Lima Poin (5PC) tetap menjadi kerangka utama ASEAN dalam menangani krisis di Myanmar.
Ia menyebut, Tailan mendorong adanya pendekatan keterlibatan kembali yang dilakukan secara bertahap. “Kemudian, menjaga dialog tetap terbuka, merespons realitas di lapangan, sekaligus mendorong kemajuan yang konkret,” ucapnnya.
Secara khusus PM Anutin menyebut, Myanmar yang damai dan stabil bukan hanya menjadi kepentingan Tailan sebagai negara tetangga terdekat. Tetapi juga sangat penting bagi persatuan ASEAN dan stabilitas kawasan.
“Prinsip yang sama juga berlaku ketika terjadi perbedaan di antara negara-negara anggota ASEAN. Perbedaan tersebut harus dikelola secara damai, dengan itikad baik, oleh pihak-pihak yang berkepentingan,” kata PM Tailan.
Adapun Juru bicara pemerintah Myanmar mengatakan Suu Kyi bertemu dengan Arnaud de Baecque, Perwakilan Tetap ICRC untuk Myanmar, pada Senin di ibu kota Naypyitaw. Pertemuan berlangsung setelah bertahun-tahun muncul pertanyaan mengenai kondisi kesehatan dan kesejahteraan mantan pemimpin Myanmar yang digulingkan dan ditahan dalam kudeta militer itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....