IOM: Pusat Penipuan Daring Picu Perdagangan Manusia Global

  • 30 Jul 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IOM memperingatkan pusat penipuan daring menjadi salah satu bentuk perdagangan manusia yang paling cepat berkembang, dengan korban dari lebih dari 80 negara yang direkrut melalui tawaran pekerjaan palsu di media sosial.
  • Jaringan kriminal di Myanmar, Kamboja, dan Laos mempekerjakan hingga 300.000 orang, dengan menyasar pencari kerja berpendidikan yang kemudian dipaksa bekerja setelah paspor mereka disita dan mengalami kekerasan.
  • IOM mendesak penguatan kerja sama internasional untuk melindungi dan memulangkan para penyintas, sekaligus memberantas jaringan perdagangan manusia yang menyebabkan kerugian global hingga US$114 miliar per tahun.

RRI.CO.ID, Jenewa — Pusat-pusat penipuan daring telah menjadi salah satu bentuk perdagangan manusia yang paling cepat berkembang di dunia. Hal tersbut disampaikan oleh Organisasi Migrasi Internasional (IOM), dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 30 Juli 2026.

Korban berasal dari lebih dari 80 negara dan direkrut melalui tawaran pekerjaan palsu yang disebarkan di media sosial. Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, mengatakan jaringan kriminal tersebut mengoperasikan pusat-pusat penipuan di sejumlah negara Asia Tenggara.

Negara-negara di Asia Tenggara tersebut termasuk Myanmar, Kamboja, dan Laos. Jaringan ini mempekerjakan hingga 300.000 orang untuk menjalankan berbagai skema penipuan daring yang menyasar korban.

Menurut Pope, para pelaku menargetkan pencari kerja berpendidikan, khususnya yang berkemampuan bahasa Inggris baik dan latar belakang pendidikan tinggi. Para korban dijanjikan pekerjaan bergaji menarik, namun sesampainya di lokasi, paspor mereka disita dan dipaksa bekerja di kompleks penipuan.

Korban juga mengalami kekerasan fisik dan psikologis serta tidak diizinkan meninggalkan lokasi. IOM menggambarkan operasi tersebut sebagai jaringan yang sangat terorganisasi dan menghasilkan keuntungan besar bagi kelompok kriminal.

Kerugian global akibat operasi penipuan daring sepanjang tahun lalu mencapai antara US$88 miliar (Rp1,5 kuadriliun) hingga US$114 miliar (Rp2 kuadriliun). Menjelang Hari Dunia Melawan Perdagangan Orang, IOM mengungkapkan telah membantu lebih dari 3.500 penyintas dari 33 negara.

Banyak korban kembali ke negara asal dalam kondisi mengalami trauma mendalam dan terlilit utang. Mereka juga kehilangan sebagian besar sumber daya setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berada dalam penyekapan.

Pope juga menyoroti bahwa para penyintas sering kali diperlakukan sebagai pelaku kejahatan, bukan sebagai korban perdagangan manusia. Oleh karena itu, IOM mendesak penguatan kerja sama lintas negara, peningkatan upaya pencegahan, serta edukasi publik.

IOM menegaskan bahwa orang-orang yang terjebak di pusat-pusat penipuan merupakan korban perdagangan manusia. Mereka dipaksa melakukan tindak kejahatan melalui kekerasan, ancaman, dan paksaan.

Organisasi tersebut menyerukan dukungan berkelanjutan untuk memberikan perlindungan, pemulangan yang aman, serta reintegrasi bagi para penyintas. IOM juga mendorong upaya mempersempit ruang gerak jaringan perdagangan manusia di tingkat global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....