Situasi Selat Hormuz Perkuat Komitmen ASEAN-Tiongkok Selesaikan Negosiasi CoC

  • 30 Jul 2026 09:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Situasi keamanan Selat Hormuz menjadi salah satu pendorong menguatnya komitmen ASEAN-Tiongkok menyelesaikan negosiasi Kode Etik (CoC) Laut Cina Selatan (LCS).
  • Kebebasan navigasi dan keamanan jalur pelayaran internasional harus tetap dijaga agar stabilitas kawasan tidak terganggu.
  • Filipina dijadwalkan memimpin pertemuan berikutnya bagi para negosiator pada Agustus mendatang.

RRI.CO.ID, Manila - Situasi keamanan Selat Hormuz menjadi salah satu pendorong menguatnya komitmen ASEAN-Tiongkok menyelesaikan negosiasi Kode Etik (CoC) Laut Cina Selatan (LCS). Kata Menlu Filipina, Maria Theresa Lazaro saat menghadiri ASEAN Media Forum (AMF) ke-10, Rabu, 29 Juli 2026 di Manila.

"Saya kira kemauan tersebut juga dipengaruhi oleh apa yang terjadi di Selat Hormuz. Kita tidak ingin Laut Cina Selatan menjadi choke point berikutnya," kata Lazaro dalam kegiatan yang diselenggarakan di bawah keketuaan Filipina di ASEAN pada 2026.

Lazaro mengatakan kemauan politik tersebut tercermin dalam berbagai pembahasan di East Asia Summit (EAS), ASEAN Regional Forum (ARF), maupun pertemuan ASEAN Plus One. Ia menilai seluruh forum itu menunjukkan adanya tekad bersama ASEAN dan Tiongkok untuk mempercepat penyelesaian CoC.

Menurut dia, kebebasan navigasi dan keamanan jalur pelayaran internasional harus tetap dijaga agar stabilitas kawasan tidak terganggu. Karena itu, ASEAN dan Tiongkok kini meningkatkan intensitas perundingan melalui pertemuan para negosiator yang diselenggarakan setiap bulan.

“Karena itu, kami berharap proses perundingan terus berjalan, bahkan, saat ini para perunding mengadakan pertemuan setiap bulan. Hal seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Kini, pertemuan berlangsung setiap bulan,” ujarnya menambahkan.

Lazaro mengungkapkan Filipina dijadwalkan memimpin pertemuan berikutnya bagi para negosiator pada Agustus mendatang. Ia menyebit, meningkatnya frekuensi perundingan menunjukkan keseriusan kedua pihak untuk menyelesaikan pembahasan CoC secara lebih cepat.

"Kami sering mendengar bahwa lebih baik tidak memiliki CoC daripada memiliki CoC yang buruk. Saya tidak berpikir ASEAN maupun Tiongkok menginginkan CoC yang buruk," ucap Menlu Filipina.

Ia menegaskan Filipina memandang CoC harus berlandaskan tiga prinsip utama, yakni selaras dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982). Kemudian, tidak mengurangi hak-hak pihak ketiga, serta mengatur perilaku para pihak di LCS secara jelas dan efektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....