Diplomasi Budaya, Kemenbud Gelar 'Cultural Evening Indonesia-Morocco'

  • 29 Jul 2026 02:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenbud menggelar pertunjukan musik Cultural Evening: A Musical Bridge Between Morocco & Indonesia untuk mempererat persahabatan budaya kedua negara.
  • Menbud Fadli Zon menyebut kesamaan seni, musik gambus, tarian tradisional, dan ajaran sufi menjadi penghubung budaya Indonesia-Maroko.
  • Dubes Maroko Redouane Houssaini menegaskan diplomasi budaya menjadi prioritas dalam memperkuat hubungan bilateral melalui kerja sama seni dan budaya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelar pertunjukan musik bertajuk 'Cultural Evening: a Musical Bridge Between Morocco & Indonesia'. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari perayaan eratnya persahabatan serta kerja sama budaya antara Indonesia dan Maroko.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan Indonesia dan Maroko memiliki banyak kesamaan budaya yang masih terpelihara hingga sekarang. Kesamaan itu terlihat pada ekspresi seni, seperti musik gambus, tarian tradisional, hingga ajaran sufi.

"Kalau kitaihat dari ekspresi musik tadi, banyak sekali kemiripan dari alat musik seperti gambus, dari tarian. Bahkan, ajaran-ajaran sufi termasuk yang lahir dari Maroko, terutama Tarekat Tijaniyah itu banyak pengikutnya di Indonesia," katanya saat ditemui wartawan usai pertunjukan musik 'Cultural Evening: a Musical Bridge Between Morocco & Indonesia', Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Selasa malam, 28 Juli 2026.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Maroko dan Indonesia memiliki kesamaan budaya yang menunjukkan seni menjadi bahasa universal. Hubungan budaya kedua negara menggambarkan seni mampu menyentuh hati manusia tanpa mengenal batas wilayah.

Tidak hanya itu, ia menceritakan bahwa kedekatan Indonesia dengan Maroko juga dilatarbelakangi oleh seorang penjelajah, Ibnu Batutta. "Pada 1345, ia mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai di Aceh," ucapnya.

Dalam catatan monumental Rihlah, Ibnu Battuta menggambarkan Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam yang makmur. Ia menyebut masyarakat Samudra Pasai sebagai penduduk terpelajar, taat, dan menjunjung tinggi nilai keimanan.

"Tulisannya merupakan salah satu catatan sejarah paling awal yang memperkenalkan kepulauan Indonesia kepada dunia Islam yang lebih luas. Catatan tersebut juga memperluas pengenalan kepulauan Indonesia kepada komunitas internasional pada masa itu," ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan Islam di Indonesia turut dipengaruhi tokoh-tokoh yang membawa ajaran secara damai dan inklusif. Salah satunya Syekh Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari wilayah Maghrib (Afrika Utara, seperti Maroko atau sekitarnya).

"Ia diingat sebagai pelopor penyebaran nilai Islam yang mengedepankan kedamaian serta keterbukaan. Hal itu memperkuat peran seni dalam membangun hubungan global antarbangsa," ucapnya.

Sementara itu, Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia. Ia mengucapkan terima kasih atas upaya mempererat hubungan budaya antara masyarakat Maroko dan Indonesia.

Menurutnya, diplomasi budaya menjadi salah satu prioritas penting dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara. "Kami memiliki hubungan yang sangat baik, serta berbagi nilai dan persatuan bersama Indonesia," ujarnya.

Ia menilai kesamaan nilai budaya menjadi fondasi kuat dalam membangun kerja sama Maroko dan Indonesia. Ia juga menegaskan hubungan kedua negara terus berkembang melalui berbagai program pertukaran budaya dan kolaborasi seni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....