Pakat Nilai Penutupan Hormuz Tak Lagi Picu Kepanikan Global

  • 23 Jul 2026 15:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penutupan kembali Selat Hormuz masih berpengaruh, namun kondisi saat ini jauh lebih adaptif dibandingkan situasi awal konflik beberapa bulan lalu.
  • Rantai pasok gas internasional kini semakin mampu menyesuaikan perubahan akibat gangguan distribusi melalui Selat Hormuz
  • Ancaman terbesar berikutnya justru berasal dari meningkatnya permintaan energi selama musim panas di Amerika Serikat
  • Lonjakan kebutuhan minyak dan gas berpotensi memperbesar tekanan harga dibandingkan dampak penutupan Selat Hormuz semata.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ahli Ekonomi Energi Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai penutupan kembali Selat Hormuz masih berdampak terhadap rantai pasok energi global. Namun, menurutnya, kondisi saat ini lebih adaptif dibandingkan pada awal konflik beberapa bulan lalu.

"Jika dibandingkan Maret lalu, rantai pasok gas sudah mulai melakukan pengalihan jalur sehingga lebih mudah menyesuaikan kondisi. Walaupun biaya logistik bertambah dan harga kembali naik, dampaknya tidak akan sebesar periode sebelumnya," kata Yayan kepada PRO3 RRI, Rabu, 22 Juli 2026.

Yayan mengatakan, pelaku rantai pasok energi internasional telah melakukan penyesuaian terhadap gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. Karena itu, kenaikan harga energi diperkirakan tidak sebesar lonjakan yang terjadi pada Maret lalu.

"Setelah proses rekonsiliasi, pasar memasuki rezim baru yang lebih adaptif. Sehingga gejolak harga tidak sedrastis sebelumnya," ujarnya.

Menurutnya, tekanan terhadap harga energi juga dipengaruhi meningkatnya permintaan selama musim panas di Amerika Serikat. Ia mengatakan, kenaikan kebutuhan minyak dan gas pada periode tersebut dapat memperbesar tekanan harga.

"Permintaan mulai meningkat pada Juli hingga September. Sehingga tekanan harga minyak dan gas dapat menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya," katanya.

Ia mengatakan, negara-negara di Asia dan Eropa tetap perlu mewaspadai gangguan distribusi energi meskipun mekanisme pengalihan jalur telah dilakukan. Menurutnya, negara-negara Eropa menghadapi tantangan lebih besar karena masih bergantung pada impor gas.

Yayan juga menilai dinamika geopolitik di kawasan tidak terlepas dari kepentingan ekonomi dan politik berbagai negara. Menurutnya, stabilitas harga energi dan inflasi menjadi faktor yang turut diperhatikan pemerintah Amerika Serikat.

Sebelumnya, diberitakan sebuah kapal tanker minyak diserang di Selat Hormuz pada Selasa, 22 Juli 2026 dini hari waktu setempat. Serangan tersebut memaksa awak kapal meninggalkan kapal demi keselamatan.

Peristiwa itu terjadi ketika Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran. Eskalasi konflik kedua negara meningkatkan ketegangan di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut.

Hingga kini, pelayaran di Selat Hormuz masih mengalami gangguan. Jalur itu dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....