UNRWA Serukan Dukungan Internasional di tengah Krisis Keuangan

  • 22 Jul 2026 13:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • UNRWA menghadapi krisis keuangan serius pada 2026, dengan kekurangan dana tunai yang diperkirakan melebihi 100 juta dolar AS (sekitar Rp1,7 triliun), sehingga mengancam layanan dasar bagi jutaan pengungsi Palestina.
  • Kebutuhan kemanusiaan terus meningkat, terutama di Jalur Gaza dan Tepi Barat, sementara UNRWA menghadapi keterbatasan sumber daya serta pembatasan operasional, termasuk larangan beraktivitas di Yerusalem Timur.
  • UNRWA menyerukan dukungan internasional yang berkelanjutan agar bantuan kemanusiaan tetap berjalan, operasional badan dapat dipertahankan, dan stabilitas kawasan tetap terjaga.

RRI.CO.ID, Jenewa — Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan masih menghadapi krisis keuangan yang serius pada 2026. Peringatan tersebut disampaikan Direktur Urusan UNRWA di Tepi Barat, Roland Friedrich, dilansir dari kantor berita WAFA, Rabu, 22 Juli 2026.

Friedrich mengatakan para pengungsi Palestina di lima wilayah operasional UNRWA masih menghadapi tantangan kemanusiaan, sosial, dan ekonomi yang sangat besar. Di sisi lain, sumber daya yang dimiliki badan tersebut terus menyusut, sementara kebutuhan bantuan kemanusiaan terus meningkat.

Friedrich menegaskan dukungan internasional yang berkelanjutan sangat dibutuhkan agar layanan dasar UNRWA tetap dapat berjalan. Menurutnya, bantuan tersebut juga penting untuk membantu menjaga stabilitas kawasan di tengah krisis yang terus berlangsung.

Ia menyoroti krisis kemanusiaan di Jalur Gaza serta memburuknya kondisi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur. Meski menghadapi berbagai kendala, UNRWA tetap berupaya memberikan layanan kemanusiaan dan menjalankan program pembangunan bagi para pengungsi Palestina.

Namun, Friedrich mengatakan UNRWA masih menghadapi berbagai pembatasan, termasuk larangan menjalankan aktivitas di Yerusalem Timur yang diduduki. Ia menilai pembatasan tersebut semakin menyulitkan badan tersebut dalam melaksanakan misinya.

Selain itu, Friedrich mengungkapkan UNRWA mengalami kekurangan dana tunai yang diperkirakan melebihi 100 juta dolar (Rp1,7 tiliun) pada 2026. Menurutnya, kesenjangan pendanaan tersebut mengancam keberlanjutan layanan dasar bagi jutaan pengungsi Palestina.

Kondisi tersebut juga berisiko mengganggu operasional UNRWA di seluruh lima wilayah operasionalnya. Friedrich kembali menyerukan dukungan dari masyarakat internasional.

Menurutnya, dukungan tersebut diperlukan agar bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi Palestina dapat terus berlanjut. Ia menegaskan bahwa pendanaan yang berkelanjutan menjadi kunci agar UNRWA tetap mampu menjalankan mandat kemanusiaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....