Gelombang Panas di Prancis, Warga Beli Kipas Angin
- 30 Jun 2026 00:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Prancis dilanda gelombang panas (heatwave) dengan suhu tertinggi 42 derajat celcius
- 2. WHO melaporkan gelombang panas di Eropa menewaskan 1.300 orang
- 3. Masyarakat Prancis membeli kipas angin untuk mendingkan tubuh
RRI.CO.ID, Jakarta- Gelombang panas (heatwave) menghantam Eropa salah satunya adalah Prancis. Disapora Indonesia, Angga Perima mengatakan suhu tertinggi di Prancis mencapai 42 derajat celcius pada dua hari lalu.
Angga Perima menggambarkan cuaca panas di Prancis, seperti tidak ada angin sehingga banyak masyarakat yang membeli kipas angin. Masyarakat Prancis lebih memilih di luar rumah seperti sungai, kolam renang atau berteduh di bawah pohon .
“Suhu sekitar 40 derajat itu tidak ada angin sama sekali, kalau hari ini 30 derajat celcius. Banyak yang membeli kipas angin, mencoba mendinginkan diri di bawah pohon ataupun di sungai atau kolam,” kata Angga, saat dihubungi oleh RRI.CO.ID, Senin, 29 Juni 2026.
Angga seperti warga Prancis lainnya, memanfaatkan kipas angin untuk mendinginkan tubuh. Ia juga menjelaskan dampak dari cuaca ekstrem, pemerintah meliburkan aktivitas perkantoran dan sekolah.
”Dampak nya telah memakan korban jiwa dan sekolah diliburkan. Selain itu, beberapa perkantoran diliburkan,” katanya.
Angga yang merupakan seorang ilmuwan memastikan tidak ada panic buying oleh masyarakat. Pemerintah setempat telah memberikan imbauan agar masyarakat memperbanyak minum air putih.
“Tidak terlihat panic buying. Pemerintah mengimbau minum air putih untuk menghindari dehidrasi dan pembukaan tempat publik yang memiliki air conditioning untuk masyarakat misal perpustakaan,” katanya.
Sebelumnya Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan kekhawatirannya atas fenomena gelombang panas. WHO melaporkan lebih dari 1.300 orang tewas akibat gelombang panas di Eropa.
“Secara khusus, kami mendorong negara-negara Eropa menerapkan rencana aksi kesehatan panas. Rencana aksi untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim,” kata Tedros dalam pernyataannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....