Utusan PBB Peringatkan Meningkatnya Risiko Pertempuran di El Obeid Sudan
- 29 Jun 2026 15:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Situasi di El Obeid, ibu kota Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan, dalam beberapa hari terakhir menjadi semakin mengkhawatirkan.
- Hemedti meyakinkannya bahwa warga sipil tidak akan menjadi sasaran serangan.
- Konflik di seluruh Sudan masih berlangsung tanpa tanda-tanda mereda serta mengingatkan meningkatnya penggunaan drone telah menambah dimensi baru yang berbahaya dalam perang tersebut.
RRI.CO.ID, New York - Situasi di El Obeid, ibu kota Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan, dalam beberapa hari terakhir menjadi semakin mengkhawatirkan. Kekhawatiran ini terjadi di tengah berlanjutnya pertempuran dan serangan drone (pesawat nirawak).
"Serangan-serangan tersebut telah berdampak pada warga sipil dan menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan ke kota. Setiap eskalasi lebih lanjut akan menempatkan ribuan orang dalam risiko,” kata Utusan Pribadi Sekretaris Jenderal PBB untuk Sudan Pekka Haavisto, Kamis, 25 Juni 2026 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
Haavisto membandingkan situasi saat ini dengan krisis sebelumnya di Sudan, khususnya di Darfur dan sekitar El Fasher. Menurutnya, kekerasan terhadap warga sipil memicu bencana kemanusiaan berskala besar.
Haavisto mengungkapkan, dirinya berbicara melalui sambungan telepon dengan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti, pemimpin Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Menurut Haavisto, Hemedti meyakinkannya warga sipil tidak akan menjadi sasaran serangan.
"Tujuannya bukan untuk mencelakai warga sipil dan bahwa ia bermaksud melindungi koridor kemanusiaan menuju kota tersebut. Hal ini kini harus kami pantau seketat mungkin,” ujarnya menekankan.
Haavisto menegaskan, konflik di seluruh Sudan masih berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. Ia mengingatkan meningkatnya penggunaan drone telah menambah dimensi baru yang berbahaya dalam perang tersebut.
Menurutnya, serangan drone yang menyasar warga sipil dan infrastruktur sipil kini semakin sering terjadi. Haavisto juga menyoroti dimensi internasional dari konflik tersebut dengan menyatakan drone yang digunakan dalam perang bukan diproduksi Sudan.
Di tengah kekerasan yang terus berlangsung, Haavisto menilai terdapat perkembangan positif di bidang politik. Terutama dalam perang antara RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan yang pecah pada April 2023.
Ia mengatakan kelompok Quintet menyelenggarakan pertemuan, yang mempertemukan partai politik Sudan, kelompok politik, dan organisasi masyarakat sipil. Kelompok itu terdiri dari Uni Afrika (AU), Otoritas Antarpemerintah untuk Pembangunan (IGAD), Liga Arab, Uni Eropa (UE), dan PBB.
Haavisto mengatakan bahwa ia akan terus berinteraksi dengan para pemangku kepentingan Sudan dan aktor regional. Termasuk melalui kunjungan ke Nairobi, serta konsultasi dengan Chad, Sudan Selatan, dan Uganda, yang semuanya memiliki peran dalam konflik tersebut.
Ia juga kembali menegaskan dukungan PBB terhadap upaya kelompok Quad untuk mewujudkan gencatan senjata kemanusiaa. Kelompok Quad sendiri terdiri atas Amerika Serikat, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....