Pakistan Ungkap Tantangan Besar dalam Menjembatani Perdamaian Iran-AS

  • 26 Jun 2026 21:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Pakistan mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi dalam upaya memfasilitasi proses perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
  • Langkah pertama yang harus dilakukan Pakistan adalah menjembatani kesenjangan kepercayaan tersebut, agar kedua pihak bersedia kembali melakukan dialog.
  • Pakistan tidak ingin memberikan harapan berlebihan mengenai hasil akhir perundingan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Pakistan mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi dalam upaya memfasilitasi proses perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Membangun kembali kepercayaan antara kedua negara menjadi hambatan utama setelah bertahun-tahun hubungan diplomatik keduanya nyaris tanpa komunikasi langsung.

Hal itu diungkapkan Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri dalam pertemuan dengan para wartawan, Jumat, 26 Juni 2026 di Jakarta. Chaudhri mengatakan, Pakistan mengambil peran sebagai fasilitator dan mediator untuk mendorong kedua negara kembali ke meja perundingan.

"Tantangan terbesar dalam proses ini adalah hilangnya rasa saling percaya antara AS dan Iran. Kita berbicara tentang dua negara yang sudah lama tidak berdialog dan tidak memiliki komunikasi langsung dalam waktu yang sangat panjang," ujar Chaudhri menjelaskan.

Menurut dia, langkah pertama yang harus dilakukan Pakistan adalah menjembatani kesenjangan kepercayaan tersebut, agar kedua pihak bersedia kembali melakukan dialog. "Karena itu, tantangan pertama adalah menjembatani kesenjangan kepercayaan tersebut dan membawa kedua negara ke meja perundingan," katanya.

Selain Chaudhri menyebut keberadaan spoilers atau pihak pengganggu menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat kemajuan perundingan. Di sisi lain, Pakistan juga harus membangun kesepahaman di antara negara-negara kawasan yang memiliki kepentingan terhadap stabilitas Timur Tengah.

"Tantangan ketiga, adalah membangun konsensus di antara negara-negara kawasan, karena proses ini bukan hanya menyangkut AS dan Iran. Seluruh negara di kawasan merupakan pemangku kepentingan utama dalam proses perdamaian ini," ujar Dubes Pakistan menambahkan.

Meski menghadapi berbagai kendala, Chaudhri mengatakan Pakistan berhasil mengajak negara-negara utama di kawasan untuk mendukung proses diplomasi tersebut. Selain itu, Pakistan juga menjalin komunikasi dengan Tiongkok sebagai salah satu kekuatan besar yang dinilai memiliki pengaruh terhadap stabilitas kawasan.

Chaudhri menyebut, komunikasi dengan Iran dan AS terus dilakukan secara intensif. Menurut Chaudhri perkembangan perundingan sejauh ini menunjukkan arah yang positif meskipun masih membutuhkan proses yang panjang.

Meski demikian, Pakistan tidak ingin memberikan harapan berlebihan mengenai hasil akhir perundingan. Chaudhri menegaskan jalan menuju perdamaian akan penuh tantangan, tetapi diplomasi tetap menjadi satu-satunya pilihan yang realistis.

"Proses ini tentu tidak akan mudah, saya tidak mengatakan bahwa semuanya akan berjalan tanpa hambatan. Namun, kami tetap optimistis bahwa melalui keterlibatan yang berkelanjutan dan upaya diplomasi yang terus dilakukan, kita akan mampu mewujudkan perdamaian di kawasan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Chaudhri juga menyampaikan pandangan Pakistan mengenai dinamika yang memengaruhi stabilitas kawasan. Menurut dia, Israel merupakan salah satu faktor yang menghambat terciptanya perdamaian.

"Menurut pandangan kami, Israel merupakan pihak yang menghambat proses perdamaian di kawasan dan menjadi salah satu rintangan utama bagi tercapainya perdamaian. Mengenai Pakistan, kami tidak melakukan pembicaraan dengan Israel karena kami tidak mengakui Israel sebagai negara dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengannya," ucap Chaudhri menegaskan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....