Hubungan Bilateral RI-Tiongkok Semakin Erat, Nilai Perdagangan Mendominasi
- 25 Jun 2026 21:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menyoroti semakin erat dan mendalamnya kerja sama bilateral antara kedua negara.
- Duta Besar Wang mencatat kerja sama kedua negara telah berkembang jauh melampaui sektor ekonomi tradisional.
- Forum dengan tema “A New Journey Forging a New Future for the China-Indonesia Comprehensive Strategic Partnership” ini menandai tahun terakhir.
RRI.CO.ID, Jakarta - Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menyoroti semakin erat dan mendalamnya kerja sama bilateral antara kedua negara. Ia menyebut, hal itu didukung dengan mendominasinya nilai perdagangan bilateral pada tahun lalu.
"Tahun lalu, nilai perdagangan bilateral mencapai USD167,5 miliar. Dan, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama tiga belas tahun berturut-turut,” kata Dubes Wang saat menghadiri Forum Think Tank dan Media China-Indonesia 2026 yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), bersama Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia dan China Public Diplomacy Association (CPDA), Rabu, 24 Juni 2026 di Jakarta.
Duta Besar Wang mencatat kerja sama kedua negara telah berkembang jauh melampaui sektor ekonomi tradisional. Yaitu, mencakup pengembangan industri, kecerdasan buatan, transformasi digital, pembangunan hijau, serta pertukaran antarmasyarakat.
"Terdapat keselarasan yang luas dan mendalam antara modernisasi Tiongkok dan visi Indonesia Emas 2045. Kerja sama kita berkembang dari hard connectivity melalui pembangunan infrastruktur, menuju soft connectivity melalui harmonisasi aturan dan standar,” ujarnya menjelaskan.
“Dan, pada akhirnya menuju heart connectivity. Hal ini yang mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara,"katanya.
Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, mengusulkan empat bidang kerja sama yang dinilai paling menjanjikan. Di antaranya, ekonomi hijau dan hilirisasi mineral kritis serta ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan inovasi.
"Ketiga, penguatan kerja sama di bidang ketahanan pangan dan energi melalui riset dan investasi bersama. Keempat, pengembangan industri manufaktur maju melalui peningkatan sumber daya manusia dan pendidikan vokasi,” kata Dirjen Aspasaf Santo memaparkan.
Forum dengan tema “A New Journey Forging a New Future for the China-Indonesia Comprehensive Strategic Partnership” ini menandai tahun terakhir. Yaitu, dari Rencana Aksi untuk Memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif antara Tiongkok dan Indonesia (2022-2026).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....