Peringatan 35 Tahun Hubungan ASEAN-Tiongkok: Diplomasi Erat, Perdagangan Menguat
- 22 Jun 2026 23:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hubungan ASEAN-Tiongkok dinilai telah berkembang menjadi salah satu kemitraan paling dinamis dan substantif di kawasan Asia-Pasifik dalam 35 tahun terakhir.
- Peluncuran laporan khusus berjudul “The Indispensability of ASEAN-China Relations, Retrospect and Outlook” menjadi momentum penting merefleksikan capaian sekaligus arah masa depan hubungan kedua pihak.
- Prof. Yang menjelaskan laporan tersebut disusun berdasarkan tiga pilar utama, yakni politik dan keamanan, kerja sama ekonomi, serta pertukaran sosial-budaya.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hubungan ASEAN-Tiongkok dinilai telah berkembang menjadi salah satu kemitraan paling dinamis dan substantif di kawasan Asia-Pasifik dalam 35 tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan Prof. Yang Yue dari China Foreign Affairs University dalam “Forum Jakarta 2026” yang digelar untuk memperingati 35 tahun hubungan dialog ASEAN-Tiongkok, Senin, 22 Juni 2026 di Jakarta.
Peluncuran laporan khusus berjudul “The Indispensability of ASEAN-China Relations, Retrospect and Outlook” menjadi momentum penting merefleksikan capaian sekaligus arah masa depan hubungan kedua pihak. “Laporan ini menghimpun kontribusi penelitian para akademisi dari seluruh kawasan,” ujarnya dalam kegiatan yang berlokasi di Markas Besar ASEAN, Jakarta.
Prof. Yang menjelaskan laporan tersebut disusun berdasarkan tiga pilar utama, yakni politik dan keamanan, kerja sama ekonomi, serta pertukaran sosial-budaya. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan evaluasi komprehensif atas perjalanan panjang hubungan ASEAN-Tiongkok.
“Laporan ini secara sistematis meninjau perjalanan hubungan ASEAN-Tiongkok dari status mitra dialog hingga menjadi kemitraan strategis komprehensif. Hubungan tersebut bukanlah kemitraan yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil komitmen jangka panjang yang terus diperkuat,” ucap Prof. Yang menambahkan.
Bidang politik dan keamanan, ia menyoroti peran Tiongkok sebagai mitra dialog pertama yang bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC) serta dukungan terhadap sentralitas ASEAN. “Hal ini menunjukkan komitmen Tiongkok terhadap mekanisme kerja sama regional yang dipimpin ASEAN,” ujarnya.
Di sektor ekonomi, Prof. Yang menekankan peningkatan signifikan dalam perdagangan dan integrasi kawasan. Menurutnya, ASEAN dan Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar selama enam tahun terakhir, dengan kerja sama yang semakin erat di bidang investasi, infrastruktur, ekonomi digital, hingga pembangunan hijau.
Ia juga menyoroti meningkatnya konektivitas rantai industri dan pasokan antara kedua pihak. “Upaya ini memberikan dorongan kuat bagi pembangunan regional,” kata Prof. Yang, seraya menegaskan bahwa hubungan ekonomi ASEAN–Tiongkok semakin saling menguntungkan.
Di bidang sosial-budaya, Prof. Yang menilai pertukaran masyarakat terus meningkat, khususnya di sektor pendidikan, budaya, pemuda, dan pariwisata. Ia menyebut lebih dari 800 proyek kerja sama telah difasilitasi melalui Pekan Kerja Sama Pendidikan ASEAN-Tiongkok selama 19 kali penyelenggaraan.
Prof. Yang juga menyoroti kontribusi konkret seperti pendirian 20 Luban Workshop di berbagai negara ASEAN yang telah melatih lebih dari 12.000 tenaga teknis. “Ini menjadi platform penting untuk pengembangan keterampilan dan kerja sama vokasi,” katanya.
Prof. Yang mengingatkan adanya berbagai tantangan kawasan yang semakin kompleks, mulai dari konflik eksternal, sengketa perbatasan, hingga ancaman siber dan penipuan telekomunikasi lintas negara. Menurutnya, tantangan ini membutuhkan respons kolektif yang lebih kuat.
Menutup pemaparannya, ia menekankan peran think tank dan universitas dalam memperkuat diplomasi jalur kedua serta menyediakan rekomendasi kebijakan berbasis riset. “Think tank dan lembaga akademik harus memainkan peran yang lebih aktif dan strategis dalam proses ini,” ujar Prof. Yang menekankan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....