Pakar Nuklir AS Sebut Indonesia Cocok Kembangkan Reaktor Modular Nuklir Kecil
- 24 Jun 2026 14:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia disebut sangat cocok untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR).
- Pakar nuklir AS, Kelle Barfield mengatakan, teknologi SMR disebut mampu menjawab tantangan geografis Indonesia yang berkepulauan dengan kebutuhan listrik tersebar di berbagai wilayah.
- Berdasarkan dukungan teknis, Amerika Serikat telah menjalankan sejumlah program bantuan bagi Indonesia. Salah satunya melalui program FIRST atau Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia disebut sangat cocok untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR). Teknologi SMR disebut mampu menjawab tantangan geografis Indonesia yang berkepulauan dengan kebutuhan listrik tersebar di berbagai wilayah.
"SMR menawarkan peluang besar diterapkan di Indonesia karena ukurannya lebih ringkas. SMR dapat ditempatkan di daerah terpencil atau lokasi dengan kebutuhan energi tinggi seperti kawasan pertambangan," ujar pakar nuklir Amerika Serikat, Kelle Barfield, dalam acara Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy di @america, Selasa 26 Juni 2026.
Barfield mengatakan, salah satu tantangan terbesar Indonesia yaitu memastikan pasokan listrik dapat menjangkau masyarakat. Baik di perkotaan maupun di wilayah-wilayah terpencil kepulauan di seluruh wilayah Nusantara.
Manurut Barfield, SMR menjadi solusi terbaik karena tidak membutuhkan infrastruktur sebesar reaktor nuklir konvensional. SMR juga dapat melayani kebutuhan listrik secara lebih spesifik di berbagai daerah.
Menurutnya, kerja sama Indonesia-AS dapat mempercepat pengembangan energi nuklir di Tanah Air. Karena, sejumlah desain reaktor SMR telah mendapat perizinan dan evaluasi ketat regulator nuklir, sehingga dapat menjadi referensi bagi Indonesia.
"Indonesia bisa memanfaatkan desain dan proses yang sudah diverifikasi di AS yang memiliki pengalaman panjang mengoperasikan pembangkit nuklir. Kerja sama ini juga membuka akses ke rantai pasok dan vendor-vendor nuklir AS," ujarnya.
Menurut Barfield, salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan nuklir bukan tentang teknologi. Namun, lebih kesiapan sumber daya manusia dan ekosistem pendukung.
Karenanya, Indonesia diminta bergerak dan tidak menunggu seluruh keputusan final. Sebelum mulai membangun kapasitas tenaga kerja, jaringan industri, hingga skema pembiayaan.
Berdasarkan dukungan teknis, Amerika Serikat telah menjalankan sejumlah program bantuan bagi Indonesia. Salah satunya melalui program FIRST atau Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology.
Program tersebut membantu negara mitra menentukan pilihan teknologi dan lokasi pembangunan pembangkit. Selain itu juga aspek pendukung lainnya dalam pengembangan SMR.
Barfield memberi contoh, proyek SMR BWRX-300 di Darlington, Kanada, yang saat ini sudah memasuki tahap konstruksi. Proyek tersebut ditargetkan beroperasi sekitar tiga tahun.
Target tersebut jauh lebih cepat dibanding pembangunan reaktor nuklir besar berkapasitas 1.000 hingga 1.500 megawatt. Karena pada umumnya membutuhkan waktu lebih lama.
Ia optimistis minat perusahaan nuklir AS untuk berinvestasi di Indonesia akan meningkat. Utamanya jika proyek-proyek yang sedang dijajaki saat ini menunjukkan hasil positif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....