Relawan Sebut Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Palestina di Yordania Menurun
- 21 Mei 2026 15:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Relawan dan mahasiswa Indonesia tetap membantu distribusi bantuan melalui mitra lokal di Jordania.
- Bantuan internasional untuk pengungsi Palestina di Jordania turun hingga hampir 80 persen.
- Pengungsi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan layanan kesehatan akibat minim bantuan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Relawan Kemanusiaan Indonesia, Eko Sulistio, mengungkapkan kondisi pengungsi Palestina di Yordania semakin memprihatinkan. Ia menyebut tahun ini menjadi masa paling sulit karena banyak bantuan internasional dihentikan.
Eko mengatakan penghentian bantuan kemanusiaan berdampak besar terhadap pengungsi Palestina di Yordania. Menurutnya, bantuan dari berbagai lembaga internasional seperti UNRWA, WHO, hingga WFP mengalami penghentian sejak awal tahun ini.
“Bantuan untuk pengungsi Palestina di Yordania turun sangat signifikan. Bahkan hampir 80 persen bantuan tidak ada dibanding tahun lalu,” kata Eko dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Kamis 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan kondisi tersebut diperparah oleh konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah. Selain itu, akses penerbangan dan distribusi bantuan juga ikut terganggu.
“Penerbangan tidak ada, lalu bantuan-bantuan internasional juga di stop. Dampaknya sangat terasa bagi pengungsi Palestina di Yordania,” ujarnya.
Menurut data PBB yang disampaikan Eko, jumlah pengungsi Palestina di Yordania mencapai lebih dari 4,5 juta jiwa pada 2019. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah hingga kini karena belum ada sensus terbaru pasca pandemi COVID-19.
Minimnya bantuan membuat para pengungsi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Eko mengaku pernah menemukan keluarga pengungsi yang terpaksa menggunakan air kamar mandi untuk minum.
“Kami bertemu keluarga yang untuk minum saja harus memakai air kamar mandi. Mereka tidak mampu membeli air bersih, karena pengungsi tidak boleh bekerja,” ucapnya.
Ia menambahkan pengungsi Palestina di Yordania tidak diperbolehkan bekerja. Kondisi itu membuat mereka hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan internasional.
Selain logistik, layanan kesehatan juga mengalami keterbatasan. Meski demikian, masih ada dua klinik kesehatan bantuan Indonesia yang beroperasi menggunakan mobil layanan keliling.
“Alhamdulillah dari Indonesia masih ada dua klinik kesehatan bergerak. Tapi jumlahnya sangat sedikit dibanding jumlah pengungsi yang mencapai jutaan,” katanya.
Eko menjelaskan terdapat 14 kamp pengungsian resmi di Yordania. Namun, masih banyak kamp tidak resmi yang tersebar di berbagai wilayah.
Ia mengatakan kondisi kamp pengungsian di Yordania tidak sepenuhnya berupa tenda darurat. Pemerintah Yordania menyediakan hunian semi permanen bagi para pengungsi.
Dalam menjalankan aksi kemanusiaan, Eko dibantu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Yordania. Jumlah relawan Indonesia yang terlibat berkisar 30 hingga 40 orang secara bergantian.
Bantuan kemanusiaan dari Indonesia umumnya disalurkan dalam bentuk dana melalui lembaga terpercaya dan mitra lokal di Yordania. Distribusi bantuan juga harus mendapat izin resmi sebelum masuk ke kamp pengungsian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....