Indonesia dan Kazakhstan Aktifkan Kembali Komisi Bersama setelah Vakum 12 Tahun

  • 14 Mei 2026 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia dan Kazakhstan resmi menggelar Pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) kedua di Astana pada Senin, 11 Mei 2026.
  • Pertemuan dipimpin bersama oleh Menko Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Nasional Kazakhstan Serik Zhumangarin.
  • Pada 2025, Kazakhstan mencatat produk domestik bruto sekitar USD333,7 miliar dengan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen dan daya beli masyarakat sekitar USD15.000 per kapita.

RRI.CO.ID, Astana - Indonesia dan Kazakhstan resmi menggelar Pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) kedua di Astana pada Senin, 11 Mei 2026. Forum tingkat tinggi tersebut menjadi momentum penting karena kembali mengaktifkan mekanisme kerja sama bilateral yang sempat vakum sejak 2013.

Pertemuan dipimpin bersama oleh Menko Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Nasional Kazakhstan Serik Zhumangarin. Kedua pihak menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan strategis antara Asia Tenggara dan Asia Tengah melalui kerja sama ekonomi yang lebih konkret.

Sebelum sidang dimulai, Menko Airlangga dan Duta Besar RI untuk Kazakhstan M. Fadjroel Rachman bertemu dengan Perdana Menteri Kazakhstan Olzhas Bektenov. Dalam pertemuan itu, kedua negara menyoroti pentingnya implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) yang ditandatangani 21 Desember 2025.

Menko Airlangga menyebut Kazakhstan sebagai pintu gerbang utama menuju kawasan Eurasia dengan kekuatan ekonomi yang besar. Pada 2025, Kazakhstan mencatat produk domestik bruto sekitar USD333,7 miliar dengan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen dan daya beli masyarakat sekitar USD15.000 per kapita.

Menko Airlangga Hartarto (kanan) dan Duta Besar RI untuk Kazakhstan M. Fadjroel Rachman (kiri) saat menghadiri Sidang Komisi Bersama (SKB) Indonesia-Kazakhstan di Astana, Senin, 11 Mei 2026 (Foto: Dokumentasi/ KBRI Astana)

Airlangga menilai Indonesia dan Kazakhstan memiliki peluang besar untuk memperluas pengaruh ekonomi di kawasan masing-masing. Ia juga mendorong pembentukan Indonesia–EAEU Business Council guna memaksimalkan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas bagi pelaku usaha nasional.

Duta Besar Fadjroel Rachman menegaskan kemitraan Indonesia dan Kazakhstan diarahkan pada langkah-langkah nyata yang saling menguntungkan. Meski nilai perdagangan bilateral pada 2025 baru mencapai USD244,7 juta.

Dubes Fadjorel optimistis angka tersebut dapat meningkat hingga USD2 miliar melalui kerja sama logistik, penerbangan langsung, bebas visa, dan energi. Sementara, dalam kerangka kerja sama Indonesia–EAEU yang mencakup Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kyrgyzstan, nilai perdagangan bahkan diproyeksikan mampu mencapai USD10 miliar.

Kedua negara juga sepakat memperluas kolaborasi di bidang energi, hilirisasi industri, kendaraan listrik, ekonomi digital, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Selain itu, sektor ketahanan pangan, agribisnis, dan penguatan konektivitas logistik menjadi agenda prioritas dalam pembahasan SKB.

Indonesia juga mendorong akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan. Seperti, minyak kelapa sawit, peralatan listrik, alas kaki, produk karet, perikanan, kopi, dan buah tropis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....