Pengamat: Tolak Proposal Perdamaian, Trump Anggap Iran Ancaman Strategis

  • 12 Mei 2026 06:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Penolakan terhadap proposal perdamaian yang diajukan Iran menunjukkan tingkat ketidakpercayaan Amerika Serikat (AS) masih sangat tinggi. Ini diperburuk dengan tekanan militer serta rivalitas politik yang terus berlangsung di antara kedua negara.

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Nur Rachmat Yuliantoro, mengatakan Washington memang terus berupaya menekan Teheran. “Namun, Iran juga tidak mau menyerah begitu saja,” ujarnya pada perbincangan dengan RRI Pro 3, Senin 11 Mei 2026.

Menurut Rachmat, Presiden AS, Donald Trump, memandang Iran sebagai ancaman strategis di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Iran merasa selama bertahun-tahun berada dalam tekanan politik, ekonomi, dan militer dari Washington.

“Mereka melihat dirinya terus ditekan, bahkan ada tuntutan kompensasi” ujarnya. “Ini bukan hanya soal diplomasi, tetapi bagaimana Iran mempertahankan politik dan kedaulatan negaranya.”

Meski begitu, Rachmat menilai adanya situasi di tengah ketegangan tersebut. Menurut dia, baik AS maupun Iran sama-sama berusaha menghindari perang terbuka meskipun keduanya mengambil posisi yang frontal.

Rachmat mengatakan peran negara mediator dan organisasi internasional akan menjadi sangat krusial untuk meredam eskalasi konflik. Upaya menjamin perdamaian di kawasan dinilai semakin sulit tanpa keterlibatan pihak ketiga.

“Jalan lain adalah mengintensifkan peran negara mediator,” ucapnya. “Harapannya mereka bisa mencegah situasi menjadi lebih buruk.”

Rachmat menambahkan baik Trump maupun rezim Iran sama-sama mempertahankan posisi keras masing-masing. Presiden AS itu menggunakan pendekatan maximum pressure, sementara Iran merasa kehormatan dan kedaulatan negaranya tidak dapat diganggu gugat.

Trump sebelumnya menolak usulan Iran menanggapi proposal perdamaian yang diajukan Washington. “Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak bisa diterima,” katanya melalui akun Truth Social.

Penolakan tersebut jelas membuat prospek perdamaian di kawasan tersebut semakin tidak jelas. Harga energi global pun ikut melonjak akibat blokade Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak terbesar di dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....