Indonesia-Filipina Siap Jadi Poros Nikel Dunia

  • 08 Mei 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Philippine NIckel Industry Association menandatangani Nota kesepahaman kerja sama strategis. Kerja sama tersebut yaitu Strategic Nickel Industry Development Cooperation.
  • Kerja sama tersebut yaitu pertukaran informasi dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Philippine NIckel Industry Association menandatangani Nota kesepahaman kerja sama strategis yakni Strategic Nickel Industry Development Cooperation. Penandatanganan dilakukan saat Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable, Kamis, 7 Mei 2026.

Penandatanganan disaksikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque. Forum tersebut dilaksanakan bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48.

Ini menjadi menjadi tindak lanjut konkret dari pembahasan kerja sama ekonomi regional dalam KTT AECC ke-27. "Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor,” kata Menko Airlangga dikutip dari siaran pers, Jumat (8/5/2026).

“Dalam hal ini platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia. Tentunya pasokan bijih nikel hulu dari Filipina," ujarnya.

Hal ini, lanjut dia, akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia," katanya lebih lanjut. Nota Kesepahaman antara APNI dan PNIA mencakup sejumlah ruang lingkup kerja sama strategis dan berorientasi jangka panjang.

Kerja sama tersebut yaitu pertukaran informasi dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global. Kemudian, pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari side product (produk sampingan) industri pengolahan.

Selain itu, juga pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan. Menurut Airlangga, Indonesia memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang sangat masif.

Bahkan, nilai ekspor produk olahan nikel mencapai USD9,73 miliar di 2025. Proyeksi investasi hingga USD47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030.

Smelter-smelter tersebut membutuhkan pasokan bijih yang stabil. Namun, pasokan bijih stabil itu dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tepat.

Rasio tersebut dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending. "Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah, namun juga terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi," kata Airlangga.

"Sementara, Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN," ucap Airlangga.

Airlangga menekankan, nikel merupakan mineral kritis yang berperan sentral dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi (energy storage).

Produk-produk tersebut baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun baterai untuk penyimpanan energi panel surya. Sehingga, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK dapat menjadi lokomotif bagi investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, serta pusat inovasi teknologi hilirisasi yang berstandar internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....