Trump Sebut Proposal 14 Poin Iran Tidak Dapat Diterima
- 04 Mei 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memasuki babak baru setelah Teheran mengajukan proposal perdamaian terbaru berisi 14 poin.
- Presiden Donald Trump menolak proposal Iran itu dan menyebutnya tidak dapat diterima.
- Dalam proposal terbarunya, Iran menekankan penyelesaian konflik dalam waktu 30 hari, bukan sekadar perpanjangan gencatan senjata.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memasuki babak baru setelah Teheran mengajukan proposal perdamaian terbaru berisi 14 poin. Iran mengajukan proposal itu melalui mediator Pakistan yang dikirimkan pada Kamis, 30 April 2026.
Namun, Presiden Donald Trump menolak proposal Iran itu dan menyebutnya tidak dapat diterima. Demikian dilansir The Times of Israel yang mengutip laporan lembaga publik Israel, Kan.
“Itu tidak dapat diterima bagi saya. Saya telah mempelajarinya, saya telah mempelajari semuanya, itu tidak dapat diterima,” kata Trump kepada penyiar publik Israel, Kan.
Sebelumnya, Trump menanggapi proposal tersebut pada Sabtu, 2 Mei 2026 menyatakan tengah mempelajari isi dokumen itu, namun belum yakin kesepakatan dapat dicapai. Pernyataan ini muncul sehari setelah Trump mengaku kecewa terhadap tawaran Iran sebelumnya yang disampaikan melalui mediator Pakistan, demikian dilansir Al Jazeera.
Proposal 14 poin tersebut dikirim Teheran ke Pakistan pada Kamis malam, yang turut berperan dalam mendorong tercapainya gencatan senjata antara kedua pihak. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan dokumen ini merupakan respons atas rencana sembilan poin yang sebelumnya didukung Washington.
Meski gencatan senjata telah dimulai sejak 8 April, hingga kini belum ada kesepakatan damai permanen antara kedua negara. Iran menegaskan keinginannya untuk mengakhiri perang secara menyeluruh.
Sementara, AS menuntut agar Teheran terlebih dahulu menghentikan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia. Blokade tersebut diberlakukan Iran sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari.
Di sisi lain, langkah Washington yang mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Meski, dalam situasi gencatan senjata, turut memperkeruh situasi dan meningkatkan ketegangan di kawasan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan langkah selanjutnya kini berada di tangan Amerika Serikat. “Sekarang bola berada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif,” ujarnya, dikutip media pemerintah Iran, IRIB.
Situasi di Selat Hormuz juga masih memanas dengan adanya aksi saling serang, penangkapan, serta pencegatan kapal oleh kedua pihak. Hal ini menunjukkan meskipun secara formal terdapat gencatan senjata, konflik di laut masih terus berlangsung dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.
Dalam proposal terbarunya, Iran menekankan penyelesaian konflik dalam waktu 30 hari, bukan sekadar perpanjangan gencatan senjata. Teheran mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk jaminan tidak adanya serangan di masa depan.
Kemudian, penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, pembebasan aset yang dibekukan dan pencabutan sanksi. Serta mekanisme baru pengelolaan Selat Hormuz.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....