Indonesia Kirim Personel TNI Pantau Gencatan Senjata Kamboja-Tailan

  • 02 Mei 2026 06:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia mengirimkan dua personel TNI sebagai Military Observer dalam ASEAN Observer Team (AOT) di Kamboja.
  • Penugasan ini menjadi bagian dari peran aktif Indonesia dalam mendukung upaya ASEAN menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
  • AOT merupakan kelanjutan dari ASEAN Interim Observer Team (IOT) yang pembentukannya disepakati dalam Special Meeting di Putrajaya, Malaysia, pada 28 Juli 2025.

RRI.CO.ID, Phnom Penh - Indonesia mengirimkan dua personel TNI sebagai Military Observer dalam ASEAN Observer Team (AOT) di Kamboja. Kedua personel tersebut yaitu Letnan Kolonel Devi Ibrohim dan Mayor Rangga Hadi Saputra.

Keduanya tiba di Phnom Penh pada Sabtu, 25 April 2026 untuk melanjutkan misi pemantauan implementasi gencatan senjata antara Kamboja dan Tailan. Keduanya diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Phnom Penh, Krishnajie pada Minggu, 26 April 2026.

“Kehadiran kedua personel TNI tersebut menandai kesinambungan kontribusi Indonesia dalam mekanisme pemantauan kawasan. Yaitu, menggantikan Kolonel Hermawan Weharima dan Letnan Kolonel Sukmana Bayuaji yang telah menyelesaikan penugasan dengan baik,” demikian pernyataan KBRI Phnom kepada RRI, Jumat 1 Mei 2026.

Penugasan ini menjadi bagian dari peran aktif Indonesia dalam mendukung upaya ASEAN menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Kehadiran pihak ketiga yang netral dan kredibel dinilai krusial untuk memastikan implementasi kesepakatan gencatan senjata berjalan efektif serta mencegah potensi eskalasi konflik.

Sejak bergabung pada 10 September 2025, tim AOT Indonesia berperan memantau situasi keamanan, melakukan verifikasi lapangan, serta menyampaikan laporan objektif kepada para pihak terkait. Peran tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis dalam membangun kepercayaan dan menjaga transparansi antarnegara.

AOT merupakan kelanjutan dari ASEAN Interim Observer Team (IOT) yang pembentukannya disepakati dalam Special Meeting di Putrajaya, Malaysia, pada 28 Juli 2025. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan akan mekanisme pemantauan yang netral dan kredibel pascakonflik bersenjata antara Kamboja dan Thailan terkait sengketa wilayah perbatasan.

Terms of Reference (TOR) AOT kemudian disepakati dalam pertemuan General Border Committee (GBC) Kamboja–Tailan pada 26 Oktober 2025. Ini sebagai dasar operasional pelaksanaan tugas di lapangan.

“Bagi Indonesia, keterlibatan dalam AOT mencerminkan komitmen berkelanjutan untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai serta memperkuat arsitektur keamanan kawasan. Kontribusi personel TNI di lapangan menjadi wujud nyata diplomasi pertahanan Indonesia yang aktif dan konstruktif,” tutup keterangan KBRI Phnom Penh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....