Sejumlah Negara Besar Tidak Rayakan Hari Buruh pada 1 Mei
- 01 Mei 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tidak semua negara merayakan Hari Buruh pada 1 Mei; negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Jepang memilih tanggal alternatif untuk memperingatinya.
- Secara global, 1 Mei tetap menjadi hari libur penting di lebih dari 150 negara dan berkaitan dengan peristiwa Haymarket 1886 yang memperjuangkan jam kerja delapan jam.
- Perbedaan perayaan Hari Buruh dipengaruhi faktor sejarah, hukum ketenagakerjaan, serta kondisi ekonomi dan politik masing-masing negara, dengan beberapa negara hanya merayakannya secara terbatas.
RRI.CO.ID, Jakarta — Sebagian besar negara di dunia memperingati Hari Buruh pada 1 Mei sebagai hari libur nasional. Namun, sejumlah negara besar seperti tidak merayakan Hari Buruh pada tanggal tersebut sebagai hari libur nasional.
Melansir dari berbagai sumber, Jumat, 1 Mei 2026, negara-negara tersebut termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Jepang. Negara-negara tersebut memilih tanggal alternatif untuk memperingati Hari Buruh.
Amerika Serikat dan Kanada merayakan Hari Buruh pada Senin pertama bulan September. Kebijakan ini berasal dari akhir abad ke-19 untuk menjauhkan peringatan tersebut dari gerakan buruh radikal.
Sementara itu, Inggris dan Irlandia memperingatinya pada awal Mei, namun tidak tepat pada tanggal 1 Mei. Secara global, 1 Mei tetap menjadi salah satu hari libur internasional yang paling luas diperingati.
Lebih dari 150 negara menjadikannya hari libur nasional, termasuk Indonesia menurut data dari Office Holidays. Peringatan ini berkaitan dengan Haymarket affair di Chicago pada 1886, yang menjadi simbol perjuangan buruh untuk mendapatkan delapan jam kerja.
Di banyak kawasan seperti Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian besar Asia, Hari Buruh dirayakan melalui berbagai kegiatan. Perayaan tersebut mencakup unjuk rasa dan demonstrasi yang menyoroti hak-hak pekerja.
Namun, tidak semua negara menerapkannya secara penuh. Beberapa negara seperti Swiss, India, Korea Selatan, dan Taiwan hanya merayakan Hari Buruh secara terbatas.
Perayaan tersebut tergantung pada wilayah, sektor industri, atau kelompok pekerja tertentu. Perbedaan dalam perayaan Hari Buruh ini mencerminkan variasi dalam sistem hukum ketenagakerjaan, struktur ekonomi, serta tradisi politik di masing-masing negara.
Secara historis, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat memilih memindahkan perayaan tersebut untuk menghindari keterkaitan dengan gerakan politik radikal. Sementara itu, banyak negara lain justru menjadikan 1 Mei sebagai simbol solidaritas pekerja dan kemajuan sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....