Trump Tak Puas Proposal Iran Buka Selat Hormuz, Isu Nuklir Jadi Pengganjal

  • 28 Apr 2026 14:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Donald Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz karena proposal tersebut hanya menawarkan gencatan senjata tanpa menyentuh isu krusial mengenai penghentian program nuklir dan pengayaan uranium.
  • Proses perdamaian menemui jalan buntu setelah Iran enggan memberikan konsesi nuklir, sementara AS terus memperdebatkan efektivitas blokade ekonomi untuk memaksa Teheran menyetujui kesepakatan yang lebih menguntungkan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tidak puas dengan usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Usulan itu dinilai belum menyentuh isu krusial terkait program nuklir Iran.

Melansir The New York Times, Trump menerima paparan rencana tersebut dalam rapat di Situation Room Gedung Putih pada Senin 27 April 2026, waktu setempat. Proposal dari Teheran juga mencakup permintaan agar Amerika Serikat menghentikan blokade di jalur pelayaran strategis tersebut.

Namun, sejumlah pejabat AS dan Iran menyebut proposal itu tidak membahas masa depan program nuklir Iran. Hal ini dinilai menjadi kekurangan utama dalam upaya negosiasi yang sedang berlangsung.

Iran sebelumnya telah menolak tuntutan AS untuk menghentikan seluruh pengayaan uranium. Teheran menegaskan aktivitas tersebut merupakan haknya berdasarkan hukum internasional.

Selain itu, Iran juga tidak bersedia menyerahkan uranium yang telah diperkaya. Sikap ini membuat proses negosiasi antara kedua pihak semakin kompleks.

Belum diketahui secara pasti alasan utama ketidakpuasan Trump terhadap proposal tersebut. Namun, ia selama ini menegaskan bahwa kesepakatan harus mencakup isu nuklir Iran.

Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyatakan bahwa pemerintah AS tidak akan bernegosiasi melalui media. Ia menegaskan presiden hanya akan menyetujui kesepakatan yang menguntungkan AS dan dunia.

Sementara itu, laporan Axios menyebut usulan Iran disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, melalui mediator dari Pakistan. Proposal itu juga menawarkan perpanjangan gencatan senjata dalam jangka panjang atau permanen.

Dalam skema tersebut, pembicaraan nuklir baru akan dimulai setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan pembatasan dicabut. Namun, langkah ini belum mendapat persetujuan dari pihak AS.

Trump sebelumnya juga menolak proposal lain dari Iran. Rencana perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad pun akhirnya dibatalkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....