LPOI Serukan 'Rekalibrasi Spiritual' untuk Perdamaian Dunia
- 24 Apr 2026 08:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- LPOI menyerukan pentingnya “rekalibrasi spiritual” sebagai langkah strategis menghadapi tantangan global di era kemajuan teknologi.
- Kyai Said menyebut ketegangan geopolitik dan ancaman perang dunia telah mengganggu stabilitas global serta mengancam kehidupan yang damai dan harmonis.
RRI CO.ID, Kyoto, Jepang - Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyerukan pentingnya “rekalibrasi spiritual” sebagai langkah strategis menghadapi tantangan global di era kemajuan teknologi. Seruan ini disampaikan dalam kegiatan Peace Dialogue di Kuil Mii Dera, Kyoto, Jepang, pada 20 April 2026.
Dalam kesempatan ini, dilakukan juga penandatanganan kerja sama pengembangan kesehatan dan riset bersama Tenma Hospital Group. Kegiatan ini diselenggarakan LPOI bersama Kuil Mii Dera Kyoto dan Sakuranesia sebagai upaya memperkuat dialog lintas agama, budaya, serta kolaborasi global dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan.
Ketua Umum LPOI Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menilai dunia tengah menghadapi kompleksitas baru akibat pesatnya perkembangan teknologi yang di satu sisi membawa kemajuan peradaban. Namun, di sisi lain berpotensi memunculkan risiko eksistensial, dehumanisasi, hingga konflik global.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman perang dunia telah mengganggu stabilitas global serta mengancam kehidupan yang damai dan harmonis. Karena itu, dibutuhkan pendekatan baru yang mampu menyelaraskan kembali nilai, orientasi, dan tatanan global.
“Dunia membutuhkan rekonstruksi nilai melalui pendekatan Spiritual and Natural Lifestyle—kembali ke spiritualitas dan kembali ke alam sebagai pilar utama kemanusiaan dan perdamaian,” ujar Said Aqil dalam keterangan persnya, Jumat 24 April 2026.
Ia menegaskan bahwa kesadaran spiritual akan menumbuhkan pandangan bahwa seluruh manusia adalah saudara yang memiliki tanggung jawab menjaga bumi sebagai rumah bersama. Nilai tersebut, lanjutnya, harus ditanamkan sejak dini agar misi perdamaian dan kemanusiaan dapat terjaga sepanjang masa.
Said Aqil juga menekankan pentingnya peran aktif Indonesia dalam menyelesaikan persoalan global. Ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 tentang penghapusan penjajahan dan komitmen menjadi rahmat bagi semesta alam.
Sekretaris Jenderal LPOI, Gus Imam Pituduh, menambahkan bahwa pendekatan Spiritual and Natural Lifestyle diharapkan menjadi jembatan persaudaraan lintas bangsa dan agama. Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif solusi yang lebih solutif dan tidak terjebak dalam blok-blok peradaban tertentu.
Ia menjelaskan bahwa gagasan tersebut telah berkembang di Asia, khususnya dalam bidang kesehatan melalui konsep Spiritual and Natural Medicine. Serta pertanian melalui Spiritual and Natural Farming.
Kedua sektor tersebut dianggap sebagai pilar utama kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Founder Sakuranesia, Tovic Rustam, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal membangun kesadaran global yang dimulai dari Jepang.
Menurutnya, kolaborasi dengan LPOI dan para tokoh agama menjadi pintu gerbang membumikan nilai kemaslahatan dan kemanusiaan. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan menjadi momentum memperkuat kerja sama global demi kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Dalam acara ini turut hadir delegasi Indonesia dan Jepang, di antaranya pimpinan pesantren, dan organisasi keagamaan, DR. Sofwan Imam Yahya Pimpinan Pesantren Al Tsaqofah, KH. Arifin Junaidi Ketua Umum HISMINU. Kemudian, Nyai Hajah Nur Hayati Muslimat NU, Sakura Tomomi Pimpinan Sakuranesia, Para Pimpinan Perhimpuan Pelajar Indonesia-Jepang (PPI Jepang).
Lalu, Pimpinan dan Anggota Kuil Miidera, Tenma Hospital Group, Para Profesor dan Guru Besar Perguruan tinggi di Jepang. Hingga, mantan Dubes Jepang Untuk Indonesia dan Para Pimpinan Korporasi di Jepang dan Pimpinan Lembaga Sosial Jepang Lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....