LPOI Gelar Peace Dialogue di Kyoto Jepang
- 24 Apr 2026 08:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- LPOI menawarkan solusi global berbasis pendekatan “Spiritual and Natural Lifestyle” Kembali Ke Spiritualitas dan Kembali Ke Alam sebagai Pilar Utama Penyangga Kemanusiaan dan Perdamaian.
- Dengan kembali ke alam, manusia akan menjadi sadar betapa pentingnya melestarikan Bumi dan Jagat raya sebagai rumah Bersama umat manusia.
RRI CO.ID, Kyoto, Jepang - Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai Asosiasi Ormas Islam Indonesia, Bersama Kuil Mii Dera Kyoto Jepang dan Sakuranesia Menggelar Peace Dialogue di Kyoto Jepang. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 20 April 2026 di Kuil Miidera Jepang.
Pararel dengan hal tersebut, juga dilaksanakan Penandatanganan Kerjasama dengan Tenma Hospital Group. MoU ini bertujuan untuk Pengembangan Rumah Sakit, Riset dan Pengembangan Stem Cell. Serta Pelayanan Kesehatan Berbasis Pendekatan Spiritual & Natural Medicine.
Ketua Umum LPOI, Prof Dr. KH. Said Aqil Siroj menyampaikan, dunia tengah memasuki babak baru dengan berbagai kemajuan, dinamika dan kompleksitasnya. Kompetisi global dan konflik kepentingan antar blok peradaban yang semakit ketat dan telah memicu peperangan serta telah merugikan masa depan kemanusiaan dan perdamaian.
"Oleh karenanya, dibutuhkan Rekalibrasi Spiritual untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik. Dibutuhkan sebuah Pendekatan Baru yang mampu menyelaraskan kembali, memperbaiki orientasi, nilai-nilai dan tatanan yang telah ada menjadi tatanan dunia yang lebih baik," katanya.
LPOI lantas menawarkan solusi global berbasis pendekatan “Spiritual and Natural Lifestyle” Kembali Ke Spiritualitas dan Kembali Ke Alam. Ini sebagai Pilar Utama Penyangga Kemanusiaan dan Perdamaian.
”Dengan kembali ke spiritualitas, manusia akan menjadi sadar, bahwa semua manusia adalah saudara yang mendapat tugas yang sama dari Tuhan. Guna memakmurkan dunia dan menjaganya dengan damai," kata Kyai Said yang juga Mustasyar PBNU dan sesepuh NU itu.
Menurutnya, dengan kembali ke alam, manusia akan menjadi sadar betapa pentingnya melestarikan Bumi dan Jagat raya sebagai rumah Bersama umat manusia. Kesadaran ini tentunya harus diletakkan sebagai core value bagi semua gaya hidup (life style) dan cara pandang (life of view) serta dasar bagi semua tindakan dalam kehidupan manusia.
"Internalisasi nilai-nilai ini harus ditanamkan sejak dini dan terus menerus kepada semua generasi. Agar misi perdamaian dan kemanusiaan dapat terwujud serta terjaga sepanjang masa” ucap Kyai Said.
"Kaum Agamawan dari semua Agama tidak boleh tinggal diam. Kini saatnya bergerak dan tidak boleh terlambat untuk menata kembali dunia yang tengah diambang perpecahan," katanya menambahkan.
Ia menyampaikan, Bangsa Indonesia Wajib dan harus senantiasa hadir, secara aktif dan cerdas dengan penuh keberanian. Yakni, dengan langkah-langkah yang strategis, untuk mensolusikan berbagai persoalan dan dinamika global.
Hal ini selaras dengan komitmen bangsa Indonesia dan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan.
"Hal tersebut juga selaras dengan misi manusia diciptakan Allah SWT. Agar menjadi rahmat bagi semesta alam," kata Kyai Said yang juga Ketua Umum Madjlis Islam A’la Indonesia (MIAI).
Dalam acara ini turut hadir delegasi Indonesia dan Jepang, di antaranya pimpinan pesantren, dan organisasi keagamaan, DR. Sofwan Imam Yahya Pimpinan Pesantren Al Tsaqofah, KH. Arifin Junaidi Ketua Umum HISMINU. Kemudian, Nyai Hajah Nur Hayati Muslimat NU, Sakura Tomomi Pimpinan Sakuranesia, Para Pimpinan Perhimpuan Pelajar Indonesia-Jepang (PPI Jepang).
Lalu, Pimpinan dan Anggota Kuil Miidera, Tenma Hospital Group, Para Profesor dan Guru Besar Perguruan tinggi di Jepang. Hingga, mantan Dubes Jepang Untuk Indonesia dan Para Pimpinan Korporasi di Jepang dan Pimpinan Lembaga Sosial Jepang Lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....