Peringatan KAA, Indonesia Perkuat Semangat Bandung Spirit

  • 19 Apr 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai Bandung Spirit.
  • Nilai-nilai KAA tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga diwujudkan dalam praktik diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional.
  • Pemerintah Indonesia menilai bahwa Bandung Spirit tetap relevan dengan dinamika global saat ini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai Bandung Spirit. Utamanya, dalam momentum peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang diperingati setiap bulan April.

“Kita melihat prinsip-prinsip yang tertuang di dalam Bandung Spirit ini sebagai nilai yang kita kawal. Tidak hanya dalam suatu seremoni tapi dalam misi dan pesan yang kita kedepankan dalam berbagai usaha keras kita,” kata Juru Bicara II Kemlu RI, Nabyl Mulachela dalam konferensi pers, Kamis, 16 April 2026 di Ruang Palapa, Kemlu RI, Jakarta.

Nabyl menambahkan, nilai-nilai KAA tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga diwujudkan dalam praktik diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional. Menurutnya, Indonesia secara konsisten mengangkat isu-isu yang sejalan dengan semangat solidaritas, kedaulatan, dan keadilan global.

Bandung Spirit bukan sekadar warisan sejarah, tetapi menjadi pedoman yang terus relevan dalam menghadapi tantangan global saat ini. Indonesia akan terus mengarusutamakan nilai-nilai tersebut dalam setiap langkah diplomasi kita,” ujarnya menekankan.

Nabyl mengatakan, pemerintah Indonesia menilai bahwa Bandung Spirit tetap relevan dengan dinamika global saat ini. “Dan, akan terus diperkuat implementasinya dalam kebijakan serta kerja sama internasional ke depan,” ucapnya.

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung, berlangsung 18 – 24 April, adalah pertemuan bersejarah 29 negara Asia-Afrika. Pertemuan ini bertujuan untuk melawan kolonialisme, memperkuat solidaritas, dan meningkatkan kerja sama ekonomi-budaya.

Diprakarsai Indonesia, konferensi di Gedung Merdeka ini melahirkan Dasasila Bandung, sepuluh prinsip perdamaian dunia yang menjadi landasan gerakan non-blok. Dasasila Bandung merupakan suatu pernyataan politik berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Melansir laman Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) pada Senin, 18 April 1955 sejak fajar menyingsing telah tampak kesibukan di Kota Bandung menyambut pembukaan KAA. Sekitar pukul 08.30 WIB, para delegasi dari berbagai negara berjalan meninggalkan Hotel Homann dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka menghadiri pembukaan KAA.

Banyak di antara mereka memakai pakaian nasional masing-masing yang beraneka corak dan warna. Mereka disambut hangat oleh rakyat yang berderet di sepanjang Jalan Asia Afrika dengan tepuk tangan dan sorak sorai riang gembira.

Perjalanan para delegasi dari Hotel Homann dan Hotel Preanger ini kemudian dikenal dengan nama "Langkah Bersejarah" (The Bandung Walks). Tidak lama kemudian rombongan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, tiba di depan Gedung Merdeka dan disambut oleh rakyat.

Presiden Soekarno, mengucapkan pidato pembukaan yang berjudul "Let a New Asia And a New Africa be Born" (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Soekarno menyatakan kepada para peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit.

Namun, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia. KAA dihadiri 29 negara yang mewakili lebih dari setengah populasi dunia saat itu, termasuk Indonesia, India, Pakistan, Mesir, dan Tiongkok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....