Israel Luncurkan Serangan ke Libanon, KBRI Intensifkan Pantau Kondisi WNI
- 16 Apr 2026 21:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Indonesia melalui KBRI Beirut terus memantau secara saksama perkembangan situasi keamanan di Libanon.
- Saat ini terdapat 934 WNI yang terdata tinggal di Libanon.
- Hingga saat ini, seluruh WNI di Libanon dilaporkan dalam keadaan aman.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui KBRI Beirut terus memantau secara saksama perkembangan situasi keamanan di Libanon. Menyusul meningkatnya intensitas serangan oleh Israel.
Termasuk, KBRI Beirut memastikan pemantauan aktif terhadap seluruh WNI yang berada di Libanon. Demikian kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah dalam konferensi pers, Kamis, 16 April 2026 di Ruang Palapa, Jakarta.
“Memang Israel terus menyerang Libanon dan tentunya KBRI kita di Libanon terus memantau keberadaan WNI. KBRI terus menjalin komunikasi dan memantau keberadaan para WNI yang berada di Libanon,” ujar Heni menambahkan.
Heni menjelaskan, saat ini terdapat 934 WNI yang terdata tinggal di Libanon. Sedangkan, dari jumlah itu didominasi para personel TNI sebagai penjaga perdamaian di bawah United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
“Dari jumlah tersebut 756 orang merupakan personel TNI yang bertugas pada misi perdamaian UNIFIL. Sementara, 178 lainnya adalah warga sipil terdiri dari pelajar, pekerja migran Indonesia (PMI), serta WNI yang menikah dengan warga setempat,” kata Heni memaparkan.
Heni mengungkapkan, KBRI Beirut terus menjalin komunikasi intensif dengan para WNI untuk memastikan kondisi mereka tetap aman dan terpantau. Hingga saat ini, seluruh WNI di Libanon dilaporkan dalam keadaan aman.
Ia memastikan, dalam menghadapi situasi yang dinamis, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan rencana kontingensi. Adapun rencana kontingensi ini diperbarui secara berkala dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
“Tentunya KBRI terus memantau apabila sewaktu-waktu kondisi semakin memburuk, rencana kontingensi tetap disiapkan. Dalam situasi konflik itu kita wajibkan mempunyai rencana kontingensi, jadi ketika sewaktu-waktu situasinya darurat, mereka sudah bisa melaksanakannya,” ucapnya.
Serangan militer Israel di Libanon sejak 2 Maret 2026 telah menewaskan 2.089 orang, termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis. Serta menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.
Para duta besar Lebanon dan Israel bergabung dalam pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat di Washington, DC, Selasa, 14 April 2026, demikian dilansir Aljazeera. Pembicaraan tersebut, yang digambarkan AS sebagai terbuka, langsung, dan tingkat tinggi, merupakan keterlibatan bilateral pertama antara kedua negara sejak 1993.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....