Mantan Wamenlu Minta Presiden Prabowo Intensifkan Peran di ASEAN

  • 15 Apr 2026 06:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menurut Dino, peran Presiden Prabowo di Asia Tenggara mencerminkan peran Indonesia sebagai kekuatan regional.
  • Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Pati Djalal, meminta Presiden Prabowo Subianto lebih mengintensifkan peran di Asia Tenggara.

RRI.CO.ID, Jakarta – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal, meminta Presiden Prabowo Subianto mengintensifkan peran Indonesia di ASEAN. Demikian disampaikan Pendiri The Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu, Selasa 14 April 2026, di Jakarta.

“Ada persepsi bahwa Presiden Prabowo tidak memberikan banyak perhatian kepada wilayah Asia Tenggara,” ujarnya. Dino menyatakan keinginan Kepala Negara untuk lebih banyak bermain di tingkat global sebenarnya sah saja.

Namun, lanjut mantan Duta Besar RI di Amerika Serikat itu, peran Indonesia di tingkat global masih sangat terbatas. “Kita masih terhitung ‘anak baru’ di BRICS, serta tidak banyak berperan dalam perang di Timur Tengah,” ucapnya.

Dino mengatakan peran Presiden Prabowo di Asia Tenggara akan mencerminkan peran Indonesia sebagai salah satu kekuatan di kawasan. Menurut dia, posisi Indonesia sebagai regional power di kawasan Asia Tenggara inilah yang harus diutamakan.

“Indonesia harus mengutamakan kekuatan di Asia Tenggara terlebih dahulu,” ujarnya. Sehingga, jika terjadi konflik di Eropa, Timur Tengah, atau wilayah lain, paling tidak di Asia Tenggara tetap aman.

Dino menegaskan sangat penting bagi Presiden Prabowo untuk memaksimalkan peran di Asia Tenggara pada tahun ini. Caranya dengan menjadikan Indonesia sebagai “Mesin ASEAN” yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan situasi di kawasan.

“Jadi, menurut saya Presiden Prabowo tahun ini harus lebih banyak ‘mengurus kandang kita” di Asia Tenggara,” katanya. Dino menambahkan bahwa menjadi “Mesin ASEAN” bagi Indonesia saat ini sangat realistis ketimbang menjadi “Macan Asia”.

Indonesia merupakan satu dari lima negara pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 8 Agustus 1967. Ini dilakukan melalui penandatanganan Deklarasi Bangkok, bersama Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Mewakili Indonesia pada saat itu adalah Menteri Luar Negeri (Menlu), Adam Malik. Peran Indonesia juga tampak melalui lokasi Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....