Iran Minta AS Tak Biarkan Netanyahu “Berulah” di tengah Gencatan Senjata

  • 10 Apr 2026 19:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “membunuh diplomasi”.
  • Israel tetap menyerang Lebanon di tengah gencatan senjata yang mulai berlaku setelah 40 hari pertempuran di kawasan.

RRI.CO.ID, Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “berulah” di tengah gencatan senjata. Hal ini menyusul serangan Israel ke Lebanon di tengah gencatan senjata yang mulai berlaku setelah 40 hari pertempuran di kawasan.

Ia mengingatkan bahwa jika Washington membiarkan diplomasi runtuh, maka itu merupakan pilihan Amerika sendiri. “Kami merasa pilihan tersebut bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” ujar Araghchi dalam unggahan media sosial dikutip Jumat 10 April 2026.

Araghchi menyebut sidang pidana Netanyahu akan dilanjutkan pada Minggu (12/4). Ia menilai gencatan senjata regional, termasuk di Lebanon, dapat mempercepat proses hukum terhadap pemimpin Israel tersebut.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf turut menegaskan bahwa “waktu hampir habis”. Ia menyebut Lebanon dan “poros-poros perlawanan” sebagai bagian tak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata.

Araghchi juga melakukan pembicaraan telepon dengan sejumlah menteri luar negeri negara Eropa dan Rusia terkait implementasi gencatan senjata. Dalam percakapan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov, Araghchi menegaskan Iran mengambil pendekatan bertanggung jawab.

Ia menyatakan jalur aman melalui Selat Hormuz akan diberikan selama dua pekan masa gencatan senjata. Hak ini jika Amerika Serikat memenuhi komitmennya.

Sementara itu, kepada Menlu Prancis Jean-Noel Barrot, Araghchi menyampaikan penyesalan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Serta serangan terhadap Lebanon dan mendesak aksi internasional.

Barrot menyambut baik gencatan senjata dan menekankan perlunya penghentian serangan Israel. Menlu Spanyol Jose Manuel Albares juga menyebut serangan terhadap Iran sebagai tindakan “ilegal” dan meminta semua pihak tetap berada di jalur diplomasi.

Gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat mulai berlaku pada Rabu (8/4). Pembicaraan damai dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini di Islamabad, Pakistan, dengan delegasi Iran dilaporkan dipimpin Qalibaf.

Namun, Israel menyatakan gencatan senjata tidak mencakup konflik di Lebanon—posisi yang dibantah Iran dan mediator Pakistan. Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon yang dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....