AS Akan Menjadi Tuan Rumah Pembicaraan Israel-Lebanon
- 10 Apr 2026 12:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah pembicaraan Israel–Lebanon di Washington, di tengah kekhawatiran serangan Israel dapat mengancam gencatan senjata AS–Iran.
- Serangan besar Israel ke Lebanon menewaskan ratusan orang dan mengguncang kesepakatan gencatan senjata yang baru berlaku kurang dari 48 jam.
- Perbedaan posisi muncul: Lebanon menuntut gencatan senjata sebelum negosiasi, sementara Iran menganggap Lebanon bagian dari kesepakatan, tetapi Israel dan AS menolaknya.
RRI.CO.ID, Washington — Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah pembicaraan antara Israel dan Lebanon di Washington pekan depan. Pertemuan ini berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa serangan Israel dapat mengancam gencatan senjata antara AS dan Iran.
Melansir dari Al Jazeera dan Deutsche Welle, Jumat, 10 April 2026, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi rencana pertemuan tersebut setelah meningkatnya ketegangan di kawasan. Serangan besar Israel ke Lebanon, yang terjadi setelah keterlibatan Hezbollah dalam konflik pada awal Maret, dilaporkan menewaskan ratusan orang.
Serangan ini mengguncang gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran yang baru berlaku kurang dari 48 jam. Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya memerintahkan upaya pembicaraan langsung dengan Lebanon dan mendorong pelucutan senjata Hezbollah. Namun, pemerintah Lebanon menegaskan bahwa gencatan senjata harus diberlakukan terlebih dahulu sebelum negosiasi dimulai.
Hingga kini, baik Israel maupun Lebanon belum secara resmi mengonfirmasi pertemuan di Washington. Sejumlah negara, termasuk Jerman dan Inggris, menyatakan kekhawatiran bahwa eskalasi di Lebanon dapat menggagalkan proses perdamaian.
Iran menyebut Lebanon sebagai bagian dari gencatan senjata. Namun, Israel dan Amerika Serikat menegaskan bahwa konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim keberhasilan gencatan senjata dua minggu dengan Iran untuk membuka ruang diplomasi. Meski demikian, situasi di Lebanon tetap tegang, korban sipil terus bertambah dan ancaman meluasnya konflik regional masih membayangi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....