Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata 45 Hari dengan AS

  • 07 Apr 2026 14:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran menolak proposal gencatan senjata 45 hari dengan Amerika Serikat, dengan juru bicara Esmail Baghaei menyebut rencana tersebut tidak logis dan menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman.
  • Proposal disusun oleh Mesir, Pakistan, dan Turki untuk gencatan senjata 45 hari serta pembukaan Selat Hormuz guna membuka jalan menuju kesepakatan damai permanen.
  • Presiden AS Donald Trump mengancam serangan jika selat tetap ditutup, namun Menteri Kebudayaan Iran Seyed Reza Salehi Amiri menyebut Trump figur tidak stabil dan Iran menuntut jaminan keamanan.

RRI.CO.ID, Teheran — Iran menolak proposal gencatan senjata baru selama 45 hari dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik. Penolakan ini muncul saat tenggat yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin dekat.

Sementara itu, mediator internasional terus mendorong pembicaraan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan proposal tersebut tidak logis dan tidak dapat diterima.

Baghaei menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman dan menilai keamanan nasional menjadi faktor utama dalam setiap keputusan diplomatik. Rancangan gencatan senjata itu disusun oleh Mesir, Pakistan, dan Turki, dilansir dari Euro News, Selasa, 7 April.

Ketiga negara tersebut mengusulkan penghentian konflik selama 45 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Tujuan proposal tersebut adalah menciptakan ruang bagi negosiasi lebih luas menuju kesepakatan damai permanen.

Pakistan mengirimkan proposal tersebut kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff. Para mediator berharap jangka waktu 45 hari cukup untuk memungkinkan pembicaraan intensif antara pihak-pihak terkait.

Iran menjadi pihak pertama yang merespons dengan penolakan. Baghaei menyatakan bahwa AS dan Israel tidak memiliki garis merah, serta menegaskan Teheran tidak akan menghentikan pertempuran tanpa jaminan keamanan.

Hingga kini, Washington belum memberikan tanggapan resmi terhadap proposal tersebut. Trump sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Selat Hormuz tetap ditutup.

Namun, Teheran berulang kali mengabaikan ancaman tersebut. Menteri Kebudayaan Iran, Seyed Reza Salehi Amiri, bahkan menyebut Trump sebagai figur tidak stabil dan sulit dipahami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....