Harga BBM Pakistan Melonjak Dampak Konflik AS Iran

  • 04 Apr 2026 13:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Harga bahan bakar di Pakistan melonjak tajam, dengan bensin naik sekitar 43 persen dan diesel 55 persen akibat krisis energi global.
  • Lonjakan dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengganggu pelayaran di Selat Hormuz serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.
  • Kenaikan harga memperbesar tekanan ekonomi di Pakistan, meningkatkan biaya transportasi dan pangan, serta mendorong pemerintah mempertimbangkan subsidi dan bantuan sosial.

RRI.CO.ID, Islamabad — Harga bahan bakar di Pakistan melonjak tajam di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu krisis energi global. Harga bensin naik sekitar 43 persen, sementara harga diesel meningkat sekitar 55 persen.

Melansir dari NDTV dan AP News, Sabtu, 4 April 2026, lonjakan ini terjadi setelah konflik yang dimulai pada 28 Februari. Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran.

Ketegangan yang meluas di Timur Tengah turut mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pakistan yang sangat bergantung pada impor energi langsung merasakan dampaknya.

Harga bensin meningkat sekitar 137 rupee (Rp25.099) per liter, sementara diesel naik sekitar 184 rupee per liter. Pemerintah menyatakan kenaikan tersebut tidak dapat dihindari karena lonjakan harga energi global dan gangguan pasokan.

Kebijakan ini menambah tekanan ekonomi di tengah inflasi yang sudah tinggi. Kelompok berpenghasilan rendah diperkirakan menjadi yang paling terdampak, karena biaya transportasi dan harga pangan berpotensi ikut meningkat.

Sejumlah laporan juga menunjukkan aktivitas di stasiun pengisian bahan bakar mulai menurun karena warga mengurangi perjalanan. Pemerintah tengah mempertimbangkan pemberian subsidi dan bantuan sosial untuk meredam dampak kenaikan harga.

Namun, konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung diperkirakan akan terus menjaga harga energi global tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan ekonomi bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Pakistan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....