WFP: Perang di Timteng Ganggu Distribusi Bantuan Pangan Global

  • 02 Apr 2026 15:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perang Timur Tengah mengganggu distribusi bantuan pangan global, dengan sekitar 70.000 ton bantuan terdampak yang cukup untuk memberi makan lebih dari 800.000 orang, menurut WFP.
  • Konflik menaikkan biaya logistik secara signifikan, pengiriman laut naik hingga 300 persen, jalur darat hingga 70 persen, serta memaksa perubahan rute akibat gangguan di Selat Hormuz.
  • Negara rentan seperti Afghanistan, Yaman, Suriah, serta kamp pengungsi di Bangladesh terdampak serius, sementara penurunan pendanaan bantuan memperburuk risiko kelaparan dan kemiskinan.

RRI.CO.ID, Jenewa — Perang di Timur Tengah mengganggu pengiriman bantuan pangan global dan memicu kekhawatiran kelompok kemanusiaan. Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan gangguan tersebut mengancam komunitas rentan di berbagai wilayah dunia.

Sekitar 70.000 ton bantuan terdampak, jumlah yang diperkirakan cukup untuk memberi makan lebih dari 800.000 orang selama tiga bulan. Sebagian pasokan bahkan dilaporkan terjebak di pelabuhan akibat terganggunya rantai pasokan.

Konflik turut meningkatkan biaya bahan bakar global dan mengganggu rute pelayaran, banyak kapal harus mengubah jalur atau berhenti beroperasi. Biaya pengiriman melonjak antara 70 hingga 300 persen, sementara biaya jalur darat meningkat hingga 70 persen.

Angkutan udara juga menjadi lebih mahal dengan kenaikan biaya antara 50 hingga 70 persen. Kondisi ini berdampak pada negara-negara yang sangat bergantung pada bantuan pangan seperti Yaman, Suriah, wilayah Palestina, dan Afghanistan.

Mengutip dari CNA, Kamis, 2 April 2026, di Afghanistan sendiri, sekitar 17 juta orang menghadapi kerawanan pangan. Sebelumnya, pengiriman bantuan melewati Iran, namun kini harus dialihkan melalui jalur darat yang melintasi beberapa negara.

Perubahan rute ini menambah waktu pengiriman hingga berminggu-minggu dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Situasi semakin rumit karena pendanaan kemanusiaan juga sedang menurun, anggaran WFP dilaporkan turun sekitar 40 persen tahun lalu.

Akibatnya, lebih banyak dana bantuan digunakan untuk biaya logistik dibandingkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Gangguan tidak hanya terjadi di sekitar Selat Hormuz, tetapi juga memicu efek berantai pada rantai pasokan global.

Keterlambatan distribusi menyebabkan kemacetan di rute alternatif dan memperlambat pergerakan bantuan. Myanmar dan kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh, termasuk wilayah yang ikut terdampak karena penduduknya sangat bergantung pada bantuan.

Kenaikan harga pangan dan bahan bakar juga meningkatkan kerentanan masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Kelompok kemanusiaan memperingatkan bahwa jika gangguan berlanjut, kelaparan dan kemiskinan dapat meningkat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....