Kronologi Meninggalnya Tiga Prajurit UNIFIL Indonesia di Lebanon

  • 31 Mar 2026 10:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dua prajurit TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL meninggal dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan dalam waktu kurang dari 24 jam, di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah.
  • Insiden pertama terjadi pada 28 Maret saat proyektil menghantam posisi UNIFIL di Adchit al-Qusayr, insiden kedua terjadi 30 Maret ketika ledakan menghancurkan konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan.
  • Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutuk keras kedua kejadian tersebut, menegaskan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target, serta menyatakan semua pihak wajib menjamin keselamatan personel UNIFIL sesuai hukum humaniter internasional.

RRI.CO.ID, Bani Hayyan - Tiga prajurit TNI yang tergabung United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan meninggal. Keduanya meninggal dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan, dilansir dari UN News, BBC, dan Al Jazeera.

Kedua kejadian tersebut terjadi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Insiden terjadi di tengah meningkatnya konflik antara pasukan Israel dan kelompok Hezbollah.

Kronologi bermula pada Minggu, 28 Maret 2027 malam, ketika sebuah proyektil menghantam posisi UNIFIL di dekat Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan. Ledakan tersebut menewaskan satu penjaga perdamaian asal Indonesia dan menyebabkan seorang lainnya mengalami luka kritis.

Pihak UNIFIL menyatakan asal proyektil belum diketahui dan penyelidikan langsung diluncurkan untuk menentukan penyebab kejadian tersebut. Kementerian Luar Negeri Indonesia kemudian mengonfirmasi bahwa korban meninggal merupakan prajurit TNI yang terkena tembakan artileri tidak langsung.

Selain korban meninggal, tiga personel lainnya dilaporkan mengalami luka dalam insiden tersebut. Situasi di wilayah itu memang memanas seiring meningkatnya pertempuran antara Israel dan Hezbollah.

Sehari setelah kejadian pertama, insiden kedua terjadi pada Senin, 30 Maret 2026. Sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan.

Ledakan tersebut menghancurkan kendaraan yang membawa personel penjaga perdamaian. Akibatnya, dua prajurit Indonesia meninggal dunia di lokasi, sementara dua lainnya mengalami luka-luka.

Salah satu korban terluka dilaporkan dalam kondisi serius dan dievakuasi ke Beirut untuk perawatan intensif. UNIFIL menyebut ledakan tersebut berasal dari sumber yang belum diketahui.

Organisasi tersebut menegaskan bahwa insiden ini merupakan kejadian fatal kedua dalam 24 jam terakhir. Penyelidikan juga dilakukan untuk menentukan apakah insiden berkaitan dengan aktivitas militer di wilayah pertempuran aktif.

PBB mengutuk keras kedua insiden tersebut dan menegaskan bahwa penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target. Pejabat PBB juga menyatakan personel UNIFIL tetap menjalankan mandat Dewan Keamanan meski dalam kondisi yang sangat berbahaya.

PBB menegaskan bahwa semua pihak memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional untuk menjamin keselamatan personel penjaga perdamaian. Serangan terhadap mereka dinilai sebagai pelanggaran serius hukum humaniter internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....