Negara-Negara Monarki Ubah Slogan Protes "No Kings" Jadi "No Tyrants"
- 30 Mar 2026 11:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Protes “No Kings” terhadap Donald Trump meluas ke negara-negara monarki dengan mengubah slogan menjadi “No Tyrants” atau “No Dictators” untuk menghindari kebingungan politik lokal.
- Aksi solidaritas digelar di Kopenhagen, Toronto, dan London, dengan fokus tetap pada kritik terhadap kebijakan pemerintah AS.
- Meski jumlah peserta di luar AS relatif kecil dan simbolis, demonstrasi di negara-negara monarki Eropa menunjukkan isu kepresidenan Trump mendapat perhatian global.
RRI.CO.ID, Kopenhagen – Aksi protes “No Kings” terhadap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meluas ke penjuru dunia. Namun, pemerintah di negara-negara yang menganut sistem monarki melakukan penyesuaian slogan agar tidak menimbulkan kebingungan politik domestik.
Sejumlah pengunjuk rasa di negara-negara berbentuk kerajaan menggunakan slogan “No Tyrants” atau “No Dictators” sebagai pengganti “No Kings”. Seperti dilansir Newsweek, Senin 30 Maret 22026, istilah “No Kings” dianggap sensitif di negara yang menganut sistem monarki.
Perubahan tersebut dilakukan untuk memastikan fokus aksi tetap tertuju pada politik AS dan kritik terhadap pemerintahan Trump. Gerakan “No Kings” berakar pada sejarah penolakan monarki dalam politik Negeri Paman Sam.
Di negara-negara monarki, penggunaan slogan asli dikhawatirkan bakal disalahartikan sebagai kritik terhadap sistem konstitusional setempat. Di Denmark, aksi digelar di Kopenhagen dengan nama “No Tyrants–Stand Up for American Democracy”.
Peserta diminta tidak membawa poster bertuliskan “No Kings” pada pawai yang berlangsung dari Kongens Nytorv menuju Kedutaan Besar AS. Demonstrasi serupa juga dilaporkan terjadi di puluhan kota di seluruh dunia.
Di Toronto, Kanada, ratusan orang berkumpul menggunakan slogan “No Tyrants”. Mereka berunjuk rasa di luar konsulat jenderal AS sebelum melanjutkan pawai menuju Queen’s Park.
Jumlah peserta diperkirakan antara 600 hingga 1.000 orang. Penyelenggara menegaskan tujuan utama aksi adalah menyoroti politik AS, bukan monarki Kanada.
Di Inggris, demonstrasi berlangsung di London dan kota-kota lainnya yang diikuti warga AS serta masyarakat setempat. Spanduk dengan slogan alternatif juga digunakan untuk menghindari kesan bahwa protes ditujukan pada sistem kerajaan Inggris.
Pendekatan serupa juga terlihat di negara monarki Eropa lainnya seperti Spanyol, Swedia, dan Belanda. Di Amsterdam, misalnya, aksi solidaritas digelar sebagai bagian dari hari aksi global.
Memang jumlah peserta aksi protes tersebut di luar AS hanya mencapai ratusan dan bersifat simbolis. Namun, gerakan ini menunjukkan penentangan terhadap kepresidenan Trump telah menjadi isu politik yang mendapat perhatian global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....