Program Pangan Dunia Sebut Myanmar Hadapi Pemulihan Rapuh Pasca Gempa
- 29 Mar 2026 22:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemantauan terbaru Program Pangan Dunia (WFP) menunjukkan pemulihan yang rapuh dari gempa bumi dahsyat yang melanda Myanmar.
- Di wilayah yang terdampak di Sagaing dan Mandalay, satu dari enam rumah tangga terus menghadapi kerawanan pangan tingkat sedang hingga parah.
- WFP membutuhkan USD150 juta untuk membantu 1,5 juta orang di seluruh negeri tahun ini dengan bantuan penyelamatan jiwa dan dukungan ketahanan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemantauan terbaru Program Pangan Dunia (WFP) menunjukkan pemulihan yang rapuh dari gempa bumi dahsyat yang melanda Myanmar. Kondisi itu diperparah dengan dampak konflik Timur Tengah yang berimbas pada kenaikan BBM, makanan dan pupuk.
Di wilayah yang terdampak di Sagaing dan Mandalay, satu dari enam rumah tangga terus menghadapi kerawanan pangan tingkat sedang hingga parah. Sementara setengah dari semua keluarga hanya memiliki ketahanan pangan yang marginal, membuat mereka sangat rentan terhadap guncangan sekecil apa pun.
“Orang-orang yang selamat dari gempa bumi baru saja mulai bangkit kembali. Dan sekarang pukulan lain kembali menjatuhkan mereka,” kata Direktur WFP untuk Indonesia, Michael Dunford dilansir UN News.
Konflik di Timur Tengah mengganggu transportasi dan menyebabkan kekurangan bahan bakar di seluruh Myanmar. Kenaikan harga BBM mendorong kenaikan biaya pengangkutan makanan dan barang-barang pertanian, menambah beban pada rumah tangga yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
Krisis ini juga berdampak pada petani Myanmar saat mereka bersiap untuk panen musim hujan. Diperkirakan peningkatan permintaan pupuk selama tiga bulan ke depan, kekurangan BBM dan kenaikan biaya input mengancam akan mendorong biaya produksi hingga dua kali lipat.
Guncangan beruntun ini diperkirakan akan paling terasa di daerah-daerah yang dilanda konflik dan gempa bumi, seperti Chin, Kachin, Kayah, Rakhine, Sagaing, dan Shan. Sehingga, memperburuk kerawanan pangan di negara di mana 12,4 juta orang, hampir seperempat dari populasi sudah menghadapi kelaparan akut.
Selama tahun lalu, WFP telah menjangkau setengah juta penyintas gempa bumi dengan bantuan dan dukungan pemulihan. Namun, organisasi tersebut kini telah beralih dari bantuan darurat ke pemulihan infrastruktur komunitas yang memberikan stabilitas jangka panjang.
WFP membutuhkan USD150 juta untuk membantu 1,5 juta orang di seluruh negeri tahun ini dengan bantuan penyelamatan jiwa dan dukungan ketahanan. Tanpa pendanaan yang cukup, lembaga tersebut akan terpaksa memprioritaskan kebutuhan penyelamatan jiwa yang paling mendesak.
Berpotensi mengurangi upaya pemulihan yang membantu para penyintas gempa membangun kembali mata pencaharian. Serta, mengurangi ketergantungan jangka panjang pada bantuan.
“Rakyat Myanmar telah mengalami guncangan demi guncangan konflik, bencana iklim, gempa bumi yang dahsyat, dan sekarang krisis bahan bakar global. Kita harus berdiri bersama mereka sekarang dan satu tahun setelah gempa bumi, mereka tidak mampu mengalami kejatuhan lagi,” ujar Dunford.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....