Badan PBB : Anak-anak dan Remaja Gaza Hadapi Kesehatan Mental dan Trauma

  • 21 Mar 2026 01:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • UNFPA menyebut 96 persen anak-anak di Gaza merasa kematian sudah dekat.
  • Sekitar 61 persen menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD), 38 persen menderita depresi, dan 41 persen menderita kecemasan.
  • Pernikahan anak yang sebelumnya menurun kembali meningkat tajam di Gaza.

RRI.CO.ID, Jakarta - 96 persen anak-anak di Gaza merasa kematian sudah dekat. Data itu berdasarkan program remaja dan pemuda di badan PBB untuk kesehatan seksual dan reproduksi, UNFPA.

“Menurut data UNFPA 96 persen anak-anak di Gaza merasa kematian sudah dekat. Ini mencerminkan dalamnya rasa takut dan trauma yang mereka alami setiap hari,” kata petugas UNFPA Sima Alami dikutip UN News.

Di kalangan remaja dan pemuda, yang sering diabaikan dalam krisis kemanusiaan, dampak psikologisnya sama parahnya. Sekitar 61 persen menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD), 38 persen menderita depresi, dan 41 persen menderita kecemasan.

“Yang mengkhawatirkan, satu dari lima orang dewasa mempertimbangkan bunuh diri hampir setiap hari. Ini bukan sekadar tekanan psikologis, ini adalah keadaan darurat kesehatan mental yang meluas,” ujar Sima menambahkan.

Menurut Sima dalam krisis ini, anak perempuan termasuk yang paling rentan, di Gaza pernikahan anak yang sebelumnya menurun kembali meningkat tajam. Angka tersebut turun dari 25,5 persen pada 2009 menjadi 11 persen pada 2022, tetapi sekarang meningkat lagi karena keluarga berjuang untuk bertahan hidup.

Sebuah studi UNFPA baru-baru ini menemukan 71 persen responden di Gaza melaporkan peningkatan tekanan untuk menikahkan anak perempuan di bawah usia 18 tahun. Dalam periode pemantauan lebih dari 400 surat nikah dikeluarkan untuk anak perempuan berusia 14 hingga 16 tahun di pengadilan darurat.

“Beberapa keluarga melihat pernikahan sebagai strategi bertahan hidup di tengah pengungsian, kemiskinan, dan ketidakamanan. Yang lain percaya pernikahan menawarkan perlindungan di tempat penampungan penuh sesak atau membantu meringankan kesulitan ekonomi,” ucapnya.

Sehingga, konsekuensi yang ditimbulkan sangat berat, yakni pada 2025 sekitar 10 persen kehamilan yang baru terdaftar di Gaza terjadi pada gadis remaja. Hal ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan dengan tingkat sebelum perang.

“Pada saat yang sama, akses ke layanan kesehatan telah menyusut drastis, hanya 15 persen fasilitas kesehatan di Gaza yang saat ini mampu menyediakan layanan. Yaitu, untuk obstetri dan neonatal darurat, meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu muda dan bayi mereka,” kata Sima menekankan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....