Jepang Kembali Subsidi Bensin akibat Ketegangan Timteng
- 20 Mar 2026 15:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Jepang kembali memberlakukan subsidi bensin untuk menekan harga yang melonjak, dengan target menurunkan harga eceran hingga sekitar 170 yen per liter.
- Lonjakan harga dipicu oleh ketegangan Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang mendorong harga bensin di Jepang mencapai rekor 190,8 yen per liter.
- Subsidi sebesar 30,20 yen per liter mulai diberikan, namun dampaknya belum merata dan diperkirakan baru terasa dalam satu hingga dua minggu ke depan.
RRI.CO.ID, Tokyo — Pemerintah Jepang kembali memberlakukan subsidi bensin sebagai langkah untuk menekan lonjakan harga energi di dalam negeri. Kebijakan ini diumumkan pada Kamis, 19 Maret 2026 dan ditujukan kepada perusahaan distribusi minyak.
Melansir dari Jiji Press, pemerintah Jepang berharap harga eceran bensin dapat turun hingga sekitar 170 yen (Rp18.174) per liter. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasar energi global.
Sebelumnya, subsidi sempat dihentikan pada akhir tahun lalu setelah pemerintah menghapus pajak tambahan sementara pada bensin. Namun, situasi global yang tidak stabil mendorong pemerintah untuk kembali mengaktifkan kebijakan tersebut.
Lonjakan harga minyak mentah dipicu oleh perkembangan geopolitik, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Gangguan di jalur utama pengiriman minyak dunia tersebut memicu kekhawatiran pasar dan mendorong kenaikan harga energi secara signifikan.
Dampak dari situasi ini turut dirasakan di Jepang. Harga rata-rata bensin reguler dilaporkan mencapai 190,8 yen (Rp20.401) per liter pada awal pekan, mencatat rekor tertinggi.
Angka tersebut naik 29 yen (Rp3.100) dibandingkan pekan sebelumnya, menyamai kenaikan mingguan terbesar yang pernah terjadi. Merespons kondisi tersebut, pemerintah memberikan subsidi sebesar 30,20 yen (Rp3.229) per liter kepada perusahaan distribusi minyak.
Subsidi tersebut diberikan untuk periode satu minggu mulai Kamis, 19 Maret 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat segera meredam kenaikan harga di tingkat konsumen.
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, terutama di wilayah pedesaan, mulai menyesuaikan harga dengan menurunkannya. Namun, sebagian lainnya masih mempertahankan harga lama, sehingga dampak kebijakan belum merata di seluruh wilayah.
Pemerintah memperkirakan efek dari subsidi ini akan mulai terlihat secara lebih luas dalam satu hingga dua minggu ke depan. Melalui langkah ini, Jepang berupaya menjaga stabilitas harga energi sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....