Hassan Wirajuda Jelaskan Kapasitas Indonesia Sebagai Mediator Konflik Iran-AS
- 10 Mar 2026 14:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto sempat menuatakan kesediaan Indonesia sebagai mediator dari konflik timur tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran. Hal tersebut ia sampaikan dalam pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 28 Februari lalu.
Dalam pernyataan tersebut, Indonesia mengajukan diri untuk menjadi fasilitator dialog pihak yang berkonflik. "Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi," tertulis dalam pernyataan tersebut.
Langkah ini sempat menimbulkan beragam respons publik. Sebagian pihak mempertanyakan sejauh mana kapasitas Indonesia untuk memediasi konflik yang melibatkan negara-negara besar tersebut.
Mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2001-2009, Hassan Wirajuda menilai kapasitas Indonesia sebagai mediator konflik Iran-Israel perlu dilihat realistis. Menurutnya, konflik tersebut melibatkan negara besar dengan kepentingan strategis yang sulit dikompromikan.
“Mungkin bukan soal cukup kuat atau tidak, persoalan ini besar karena melibatkan negara superpower. Negara adikuasa seperti Amerika Serikat tidak suka diatur, begitu pula Iran,” ujarnya kepada RRI, Selasa, 10 Maret 2026.
Hassan menilai, sebenarnya tidak ada salahnya jika Indonesia ingin berkontribusi, dalam hal ini sebagai mediator. Menurutnya, pada dasarnya gagasan Indonesia mendorong perdamaian memang sejalan dengan tradisi diplomasi nasional.
“Menurut saya, pikiran untuk mendamaikan perang memang cerminan tradisi Indonesia sebagai bangsa. Kita sejatinya ingin menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan konflik termasuk perang,” katanya.
Meski demikian, sekali lagi, suatu negara perlu memperhatikan momentum yang tepat Ketika hendak mengambil langkah. Karena hal tersebut juga berpengaruh pada keberhasilan upaya mediasi konflik yang terjadi.
"Biasanya, ketika masing-masing pihak tidak ada harapan lagi untuk memenangkan perang. Nah, barulah kondisinya lebih terbuka untuk siapapun yang mencoba mendamaikan," ujarnya.
Ia juga menekankan Indonesia sebaiknya tidak bergerak sendiri dalam mendorong penyelesaian konflik tersebut. “Mestinya kita tidak maju sendiri, karena banyak juga negara sehaluan yang tidak suka perang,” ujarnya.
Kerja sama multilateral dinilai dapat memperkuat posisi diplomatik Indonesia saat menawarkan mediasi kepada pihak bertikai. Dengan dukungan bersama, peluang membuka ruang dialog dinilai akan lebih besar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....