Pakar Apresiasi Langkah Indonesia Jadi Mediator Konflik AS-Israel dan Iran
- 04 Mar 2026 21:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai langkah Indonesia menawarkan diri sebagai mediator konflik AS-Israel dan Iran patut diapresiasi. Menurutnya, inisiatif itu menunjukkan keberanian diplomasi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Otomatis kita tetap menyuarakan ya salah satu prinsip politik luar negeri kita, konstitusi kita, bagaimana menyerukan untuk perdamaian. Karena ini merupakan salah satu solusi yang paling praksis yang bisa kita tempuh untuk memastikan perdamaian dunia terwujud seutuhnya,” ujar Agung dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu 4 Maret 2026.
Agung mengakui peluang Indonesia benar-benar menjadi mediator memang tidak besar. Namun, keberanian untuk tampil menawarkan solusi dinilai sebagai langkah maju.
“Terlepas kemungkinan kecil ya kita bisa mediator untuk mendamaikan antara Iran dan Israel. Tapi ikhtiar Presiden untuk menjadi mediator mendamaikan ya kubu-kubu yang bertikai patut diapresiasi,” ujarnya.
Banyak negara, kata dia, memilih diam atau sekadar mengutuk konflik. Sementara Indonesia mengambil posisi aktif dengan menawarkan diri sebagai penengah.
Menurutnya, strategi ini membuat politik luar negeri Indonesia lebih atraktif di mata dunia. Manuver tersebut juga mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang peduli pada stabilitas global.
Meski begitu, tantangan menjadi mediator tidak ringan. Indonesia harus benar-benar berada di tengah dan tidak memihak salah satu pihak.
“Kita harus benar-benar berada di tengah, tidak memihak salah satu, ambil contoh kita anggota Board of Peace dimana, ada Amerika-Israel. Sementara Iran bersama kita di OKI, nah ini kan jadi sebuah dinamika tersendiri ketika kita memainkan peran,” katanya.
Ia menyoroti dinamika hubungan Indonesia-Iran yang dalam beberapa waktu terakhir belum begitu intens menjadi salah satu kendala. Di sisi lain, Indonesia juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Kondisi tersebut dinilai kompleks namun sekaligus membuka ruang netralitas. Agung menyebut posisi tanpa kepentingan langsung bisa menjadi keuntungan strategis.
“Memang ini agak menarik tapi ini juga bisa menjadi keuntungan. Karena kita tidak punya kepentingan apapun selain mendamaikan dua hubungan yang sedang bertikai,” ucap Agung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....