Rusia Akan Tetap Patuhi Batasan Nuklir jika AS Patuh
- 12 Feb 2026 14:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Moskow — Rusia menyatakan akan tetap mematuhi batasan senjata nuklir dalam perjanjian New START yang telah berakhir. Komitmen tersebut berlaku selama Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 12 Februari 2026.
Perjanjian tersebut resmi berakhir awal bulan ini. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, dua negara tersebut tidak lagi memiliki pembatasan yang mengikat atas arsenal strategis mereka.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan munculnya perlombaan senjata global baru. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyampaikan sikap tersebut dalam pidato di parlemen.
Ia mengatakan Moskow tidak terburu-buru untuk mengembangkan dan mengerahkan lebih banyak senjata nuklir. Sebelumnya, kementeriannya sempat menyatakan bahwa Rusia tidak lagi merasa terikat oleh ketentuan perjanjian tersebut.
Lavrov menegaskan, moratorium yang diumumkan Presiden Rusia tetap berlaku, tetapi hanya selama AS tidak melampaui batas yang ditetapkan. Ia juga mengaku memiliki alasan untuk percaya bahwa Washington tidak akan segera meninggalkan batasan tersebut, meski tidak menjelaskan dasar keyakinannya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menolak tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin. Tawaran tersebut berisi usulan untuk secara sukarela memperpanjang kepatuhan terhadap batas New START selama satu tahun.
Trump menyatakan bahwa ia menginginkan perjanjian baru yang “lebih baik dan dimodernisasi,” bukan sekadar memperpanjang kesepakatan lama. Rusia pun mengindikasikan minat untuk merundingkan kesepakatan pengendalian senjata yang baru.
Amerika Serikat mendorong agar Tiongkok dilibatkan dalam pembicaraan selanjutnya, dengan alasan pertumbuhan pesat arsenal nuklir Beijing. Namun, Beijing menolak bergabung dalam pembicaraan pengurangan senjata bilateral dengan alasan kapasitas nuklirnya jauh lebih kecil.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam perundingan tersebut. Sementara itu, Moskow menyatakan, jika Tiongkok dilibatkan, maka sekutu nuklir AS, yakni Inggris dan Prancis, juga harus turut serta.
New START pertama kali ditandatangani di Praha pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Perjanjian tersebut membatasi masing-masing pihak pada 1.550 hulu ledak strategis yang dikerahkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....